Semenjak di Bandung (Part 2)
Jemuran dan Hujan Saya lebih percaya bahwa Tuhan menciptakan Bandung seiring penciptaan hujan ketimbang "Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan tersenyum." Rasanya tanah Sunda ini tidak lengkap jika menjalani hari tanpa hujan, sepanjang tahun. Bahkan saat mengetik ini saya bisa mendengar suara air mengetuk atap kemudian jatuh menimpah selokan dan mengantarkan bau aneh melalui ventilasi kamarku yang mungil. Entah berapa macam jenis biotik dan abiotik yang mencampurkan baunya untuk kunikmati dengan penuh kekhawatiran. Tersadar dari novel kesayanganku, Kambing dan Hujan milik Mahfud Ikhwan, jemuran dan hujan adalah dua hal yang pula tidak dapat disatukan. Bahwa yang lari pada saat hujan adalah kambing dan yang tidak lari adalah kambing bodoh. Bahwa jemuran basah yang diangkat pada saat hujan adalah penderitaan dan jemuran yang dibiarkan semakin basah oleh hujan adalah penderitaan yang lebih derita. Sejak di sini ketakutan paling besarku adalah hujan turun ketika jemuranku sedan...