Semenjak di Bandung (Part 2)

Jemuran dan Hujan

Semenjak di Bandung (Part 2)


Saya lebih percaya bahwa Tuhan menciptakan Bandung seiring penciptaan hujan ketimbang "Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan tersenyum." Rasanya tanah Sunda ini tidak lengkap jika menjalani hari tanpa hujan, sepanjang tahun. Bahkan saat mengetik ini saya bisa mendengar suara air mengetuk atap kemudian jatuh menimpah selokan dan mengantarkan bau aneh melalui ventilasi kamarku yang mungil. Entah berapa macam jenis biotik dan abiotik yang mencampurkan baunya untuk kunikmati dengan penuh kekhawatiran.

Tersadar dari novel kesayanganku, Kambing dan Hujan milik Mahfud Ikhwan, jemuran dan hujan adalah dua hal yang pula tidak dapat disatukan. Bahwa yang lari pada saat hujan adalah kambing dan yang tidak lari adalah kambing bodoh. Bahwa jemuran basah yang diangkat pada saat hujan adalah penderitaan dan jemuran yang dibiarkan semakin basah oleh hujan adalah penderitaan yang lebih derita. 

Sejak di sini ketakutan paling besarku adalah hujan turun ketika jemuranku sedang berusaha menggantungkan harapan akan kering. Nyatanya, saya semakin sering laundry baju daripada mencucinya sendiri sebab butuh waktu lama untuk mengeringkannya. Dengan baju yang jumlahnya terbatas akan dijumpai hari di mana kamu tidak memiliki baju lagi untuk digunakan sebab masih bergantungan pada tali yang bosan.

Laundry bukanlah masalah besar jika engkau anak Presiden atau pamanmu ketua Mahkamah Konstitusi, semua bisa diatur dengan mudah. Dan di sini, pada kenyataan yang harus kamu terima dengan lapang dada, kamu hanyalah mahasiswa biasa. Berhemat akan membawamu pada akhir bulan yang tidak begitu menyedihkan. Setidaknya ayam bajak harga dua belas ribu masih bisa kamu pilih, untuk dipilih atau tidak dipilih. 

Dengan layanan satu mesin satu orang, membutuhkan tiga puluh empat ribu rupiah untuk maksimal tujuh kilogram pakaian. Pertama kali menggunakan jasa laundry ini saya hanya sekadar datang membawa setumpuk baju tanpa memikirkan apapun, terjadi pada awal bulan. Pada saat pakain kotor itu ditimbang ternyata hanya tiga kilogram lebih sekian, namun karena aturannya satu mesin satu orang makanya saya tetap harus membayar tiga puluh empat ribu rupiah. Setelah kuhitung-hitung 34/7 (bukan 24/7) berarti satu kilogram sekitar lima ribu rupiah. Berarti pula saya telah kehilangan sekitar dua puluh ribu secara cuma-cuma, itu untuk sekali laundry. Pernah juga saya harus membayar enam puluh delapan ribu hanya untuk 8Kg baju. Bayangkan jika saya menggunakan jasa ini selama 40 tahun, atau setidaknya 36 tahun dengan hitungan dua kali seminggu. Wah, saya akan rugi banyak, uang yang kugunakan untuk laundry seharusnya kudonasikan saja dalam membantu program makan gratis. 

Semua itu hanya akan terjadi jika saya tidak bisa menimbang dengan baik pakaianku sebelum ke laundry. Benar bahwa pengalaman adalah guru terbaik, maka dengan beberapa kali menggunakan jasa layanan itu, kini saya bisa dengan tepat membawa tujuh kilogram kurang sedikit hanya dengan menggunakan insting dan tanganku yang seperti akan putus jika mengangkat tumpukan pakaian itu. Saya sudah jago berhemat dalam setiap borosnya anak kos, patut disyukuri.

Bandung memanglah indah dengan suasannya yang selalu lembab. Sangat romantis. Namun apa yang lebih romantis dari mengambil pakaian kering di jemuran? Tidak ada! Menantikan pakaian kita berada di tali jemuran yang sama hanya romantisme gadungan. Tetaplah lembab Bandung Raya, dan keringlah dengan segera wahai jemuran. 


Komentar

ST. Fatimah WH mengatakan…
Masyaallah bisa jadi novelis bu, lanjutkan dan terus berkarya

Postingan populer dari blog ini

Berkenalan dengan Paya Nie

Aravind Agida dalam Harimau Putih

Seorang Perempuan yang Berlutut kepada Tuhan