Seorang Perempuan yang Berlutut kepada Tuhan
Seorang Perempuan yang Berlutut kepada Tuhan
(Produk IEWC)
…
Aku tidak pernah memegang pisau dan mengayungkannya kepada seseorang, terlebih seorang nenek, apalagi nenekku sendiri. Nenek meninggal karena sudah saatnya, aku terlahir pun berdasarkan waktu yang tepat. Tidak kurang atau lebih. Ketepatan ini yang membuat orang-orang di keluargaku terus berpikir aku adalah sang pengganti. Aku tidak terima, aku adalah aku. Nenek lain lagi.
…
Nara, itulah kata yang digunakan seseorang untuk memanggilku. Itu bukan nama nenekku, namun panggilan itu ditujukan kepadaku. Entah atas dasar apa. Aku berpura-pura bahwa namaku benar Nara. Aku bertanya ada apa, dia diam, dan kemudian meminta maaf karena salah orang. Matanya tidak bekerja dengan sempurna.
Hitungan detik yang membuatku merasa memiliki hidup baru. Aku tiba-tiba ingin bernama Nara. Sepanjang hidupku yang dihantui keinginan mengganti nama, tak kunjung menemukan nama yang tepat, akhirnya menemukan Nara. Singkat dan tidak bermakna kematian.
…
Terhenti di tengah jalan. Dia mengajakku menyeberang bersama, sebuah permintaan maaf kedua karena telah menundaku berada di seberang sana lebih awal. Aku melihat wajahnya lekat, menanti kata Nara keluar lagi. Aku memandang bibirnya terpesona. Aku mencoba mengaturnya agar tidak terkesan seperti orang cabul. Kami berpisah. Dia pergi tanpa menengok, punggungnya menunjukkan kekhawatiran.
…
Setelah menunggu di jalan ini menjadi kebiasaan, aku tidak pernah menemukannya. Tidak ada lagi Nara.
Bersamaan dengan evaluasi bulanan di kantor, kuputuskan untuk menungguinya di waktu yang berbeda. Mungkin pagi hari akan cocok.
…
Hari pertama menunggu dengan cuti setengah hari, dia muncul tepat di depan mataku. Ranselnya terlalu besar untuk ukuran tubuhnya itu. Dari caranya melihatku, aku tahu ada ketakutan di situ. Dapat kupastikan dia menghindariku selama ini. Aku menanyakan kabarnya melalui tatapan mataku. Dia berbelok. Aku tidak mengikutinya.
…
Aku tidak lagi menunggunya, namun aku jadi sering menggunakan cuti tahunanku. Dengan pakaian kantor aku berjalan menuju entah.
…
Mata kami bertemu, matanya dipenuhi pertanyaan. Berpaling, matanya diarahkan untuk melihat sepatu di kaki kirinya. Entah dari mana sepatu itu melangkah hingga terparkir di sini. Jalan yang berada jauh dari harapan bertemu Nara. Dia tidak bergerak. Menungguku mendekatinya. Aku berlutut entah untuk apa.
…
Bus kuning melewati kami.

Komentar