Aravind Agida dalam Harimau Putih
Setelah berkenalan dengan karya Jhumpa Lahiri dan R.K. Narayan, saya menjadi semakin sering mencari literatur India. Pencarian ini mengingatkanku dengan buku-buku terbitan Mimamsa yang masih bertengger di rak jualanku. Mimamsa adalah penerbit indie yang khusus menerjemahkan buku-buku terbitan India, di Bandung. Meski akhirnya buku yang kubaca ini bukan dari rak jualan, melainkan buku bekas yang kubeli dari twitter. Harimau Putih, karya Aravind Agida. Berjudul asli The White Tiger dan diterjemahkan oleh Stanley Khu, terima kasih.
Bercerita mengenai seorang Mannu, anak tak bernama yang hidup dalam kasta Pembuat Manisan. Bersekolah dengan nama Balram Halwai, sebab nama Ram telah digunakan oleh anak yang lain. Tumbuh sebagai Harimau Putih yang mampu meningkatkan kastanya dengan menjadi seorang supir. Setelah membunuh tuannya, dia berganti nama menjadi Ashok Sharma. Menjadi pengusaha dengan lampu gantung di meja kerjanya. Semua kisah ini dituliskan dalam enam kali malam, dua kali pagi, dalam satu minggu. Sebuah surat yang ditujukan kepada Tuan PM China yang akan berkunjung ke India.
Menarik garis pembatas antara kemiskinan dan perut buncit, tata krama yang bersembunyi di balik keinginan membunuh. Pada suatu tempat kamu boleh memilih untuk menjadi jahat atau baik, seperti di Bengaluru. Pilihan itu tidak ada di Laxmangarh, Delhi, dan di segala tempat di India Terang. Di sini, kamu boleh hidup hanya ketika kamu jahat. Itulah mengapa Ashok terbunuh oleh supirnya yang baik hati. Penulis menarik garis yang sangat jelas antara baik dan jahat, kemudian dikaburkan begitu saja. Dengan 36.000.004 Dewa, mengapa India tampak tidak dapat diselamatkan?
Kekacauan dalam sistem pemerintahan terlalu sulit untuk diperbaiki, korup mengakar pada setiap lini dan menjadi sebuah kesyukuran. Gaji yang kecil membuat para orang tua berharap guru korupsi harga buku. Keserakahan dan keinginan menjadi seperti tuan, membuat seorang pelayan membayar dua kali lipat dari yang dibayarkan tuannya untuk memesan perempuan berambut pirang.
Sebagai buku dalam bentuk surat, saya merasakan bagaimana frustasinya penyurat. Menulis kepada seseorang yang tidak akan pernah membaca surat.

Komentar