Berkenalan dengan Paya Nie

 

Berkenalan dengan Paya Nie



Dengan serangkaian buku yang telah kubaca dan juga dibaca oleh orang lain, aku menambatkan kepercayaan kepada Marjin Kiri dalam mengurasi buku-buku untuk diterbitkan. Oleh karena itu, tanpa mengetahui bahwa Paya Nie merupakan Juara III Sayembara Novel DKJ 2023, aku telah lebih dulu tertarik untuk memilikinya. Sebuah nasib baik, Kedai Jante mempertemukanku dengan Ida Fitri, sang penulis. Buku yang kubaca ini tentu saja telah dibubuhi tanda tangan beliau. Yey!

Paya Nie bukan kata yang akrab di telingaku. Hingga saat ini pun aku belum yakin bagaimana cara membacanya dengan benar. Berkat bantuan daftar istilah, aku menyadari banyak hal baru yang sebelumnya tidak kuketahui mengenai Aceh. Novel ini pun memperkenalkanku kembali pada GAM, dari sisi yang lebih dekat.

Novel ini berkisah tentang empat perempuan yang mencari binyeut di sebuah rawa bernama Paya Nie, lalu mendapati diri mereka terjebak dalam perang antara gerilyawan GAM dan tentara induk. Demikianlah, perang selalu saja mengorbankan orang-orang yang tidak bersalah. Dan selalu pula, perempuanlah tubuh yang paling banyak dikorbankan. Karena dianggap mampu mendatangkan rasa kasihan, perempuanlah yang harus membuka pintu di malam hari, menjadi garda terdepan bagi suami dan anak-anaknya. Karena dianggap lemah, lelaki-lelaki bejat, baik gerilyawan maupun tentara, tanpa tahu malu memperkosa mereka, memuaskan ego kelelakiannya dan nafsu hewani dengan cara paling hina. Bahkan Mail tidak mampu berbuat sebejat itu.

Beberapa hal membuatku bertanya-tanya. Apakah penulis sedang mencoba menempatkan gerilyawan dan tentara induk pada posisi yang sejajar? Aku melihat pola yang berjalan beriringan. Tiga tentara induk memperkosa seorang gadis yang pergi mengaji hingga ia meninggal. Di sisi lain, Fajri yang merupakan seorang gerilyawan memperkosa Biet yang berhasil diselamatkan di markas GAM. Biet membalas dendam dengan menembak Fajri dari jarak dekat. Joel segera membuang pistol yang digunakan kekasihnya itu, seolah hendak menyelamatkannya dari hukuman gerilyawan GAM jika sampai diketahui bahwa dialah pelakunya. Sementara itu, Kapten Eka Kurnia hanya mampu menendang dan memukul pelaku pemerkosaan dari pihaknya, dan tidak bisa memaafkan dirinya atas tindakan anak buahnya. Padahal, ini bukan tentang mereka. Ini tentang Biet yang tak lagi sama, dan tentang gadis itu yang tak lagi hidup.

Penyesalan muncul dari kedua pihak, seolah-olah mereka tidak pernah dengan sadar dan penuh keyakinan terlibat dalam perang tersebut. Seakan mereka hanyalah boneka yang tak punya pilihan lain. Apakah semua ini murni kesalahan orang-orang yang tidak terlibat langsung dalam peperangan? Sekadar permainan pemimpin negara dan para petinggi gerilyawan? Ataukah ini bagian dari rencana Ayyubi dari Lamuri, yang telah kukenal cukup baik dalam cerita lain?

Kami tidak menemukan sesuatu yang sangat penting di pulau itu, kecuali kematian-kematian yang tidak perlu.

Aku merasakan kesedihan yang berbentuk kemarahan, setelah membaca lembar terakhir aku hilang sesaat. Selamat membaca dan semoga suka!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aravind Agida dalam Harimau Putih

Seorang Perempuan yang Berlutut kepada Tuhan