Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2025

Seekor Semut yang Meledakkan Dirinya di Tahun 2025

Gambar
  Seekor Semut yang Meledakkan Dirinya di Tahun 2025 Kisah ini dituliskan melalui kacamata manusia yang begitu mencintai dirinya sendiri, tentang bagaimana dia merasa, bukan bagaimana kebenaran yang sebenarnya terjadi. Sebab kebenaran pun semakin kehilangan diri, semua orang memungut serpihan-serpihan kebaikan yang dapat diyakini sebagai sebuah pembenar hingga menjelmah kebenaran. Sebagaimana sejarah terus menerus ditulis ulang dan dipoles menuju kebenaran baru. Hari Senin selalu dimulai lebih cepat. Bahkan bagi koloni semut peledak yang hidup dengan sistem nokturnal. Demikianlah kemudian semut pekerja bernama Riu memulai Seninnya lebih cepat lagi, yakni pukul lima sore. Dia ingin melihat dunia lebih awal, menikmati keindahan lebih lama, menangkap ketenangan lebih dekat. Sering dia menemukan kelelawaran yang juga bangun lebih cepat, kadang melihat bekantan beristirahat di pohon-pohon dekat air sebelum akhirnya pulang untuk beristirahat, serta mendapat waktu berpamitan dengan ma...

Cala Ibi dan Nukila Amal

Gambar
  Buku epik ini tanpa kusadari berada di rak bukuku. Satu yang pasti, ini salah satu dari beberapa buku random yang kurebut dari tumpukan buku temanku yang itu – yang tidak perlu disebutkan namanya. Keberadaannya baru kusadari ketika seorang teman merekomendasikan Cala Ibi pada sebuah pesan singkat. Selesainya Normal People membawaku ke Nukila Amal. Seorang penulis dari Maluku Utara, tempat yang entah kenapa kurasa dekat denganku. Dengan mata dan cara pandangku, aku sama sekali tidak mengerti apa yang digambarkan di sampul buku ini, selain gambaran ketidakjelasan, sebagaimana mimpi. Dengan kertas HVS yang mengajak berkelahi mataku, hingga ke bab kesekian kukira adalah kumpulan cerpen. “Sebuah novel dengan ramuan berbagai gaya penulisan. Mimpi dipuja, realitas ditabrak, realisme digempur, dan – sebagai konsekuensinya – filsafat eksistensialisme pun harus diusung masuk.” Tulis Budi Darma. Ini novel, dan aku jatuh cinta pada paragraf pertama di cerita pendek pertama. Nukila Am...

Suatu Pria tidak Perjaka yang Merindukan Perawan

Setiap orang bertemu malaikat maut setiap hari. Kecuali nyawa-nyawa yang mencoba menghilang dari ketubuhannya sendiri.  Suatu pria tidak perjaka mengintai seorang wanita, meminta penghargaan dengan memenjarakan keindahan helai-helai tersandar di pundak pada sehelai kain. Dengan tanpa penghormatan, dia berkata, bahkan di hari pernikahan jika engkau terbukti melakukan hal yang keluar dari batasanku, aku tidak akan melemahkan diri. Entah mengapa suatu pria merasa berhak membatasi tubuh seorang wanita. Kasihan sekali, hanya itu yang dia punya. Kehormatan yang menebeng pada tubuh seorang wanita.  Seorang yang tubuhnya memikul kehormatan suatu pria kemudian berjalan cepat pada suatu petang yang berbalur lembayung, berburu waktu, mengejar malam. Melawan angin dengan sepeda bermotor, dan tertabrak undur-undur, tepat di bola matanya.  Penuh penyesalan, Terintai seharusnya tidak membiarkan kacamatanya sendirian di atas meja kasir Indomaret, tak berkepemilikan, mengingatnya dengan p...