Cala Ibi dan Nukila Amal

 


Buku epik ini tanpa kusadari berada di rak bukuku. Satu yang pasti, ini salah satu dari beberapa buku random yang kurebut dari tumpukan buku temanku yang itu – yang tidak perlu disebutkan namanya. Keberadaannya baru kusadari ketika seorang teman merekomendasikan Cala Ibi pada sebuah pesan singkat. Selesainya Normal People membawaku ke Nukila Amal.

Seorang penulis dari Maluku Utara, tempat yang entah kenapa kurasa dekat denganku. Dengan mata dan cara pandangku, aku sama sekali tidak mengerti apa yang digambarkan di sampul buku ini, selain gambaran ketidakjelasan, sebagaimana mimpi. Dengan kertas HVS yang mengajak berkelahi mataku, hingga ke bab kesekian kukira adalah kumpulan cerpen. “Sebuah novel dengan ramuan berbagai gaya penulisan. Mimpi dipuja, realitas ditabrak, realisme digempur, dan – sebagai konsekuensinya – filsafat eksistensialisme pun harus diusung masuk.” Tulis Budi Darma.

Ini novel, dan aku jatuh cinta pada paragraf pertama di cerita pendek pertama. Nukila Amal menabrak aturan menulis dengan menulis aturannya sendiri, entah untuk siapa. Dia adalah penulis egois yang menulis tentang apa yang dia pikirkan tanpa memikirkan pembaca. Menyerahkan segala tulisannya sampai dengan apa adanya. Barangkali juga terbesit kejailan agar pembaca berada di dua situasi sulit. Pertama, berhenti. Selanjutnya terus membaca diikuti kebingungan. Aku suka keegoisan ini dan sedikit mencelanya. Tidak ada tanda koma pada kalimat-kalimat yang biasanya diberikan tanda koma. Dia menolak titik ketika seharusnya berhenti. Titik tiga yang sesukanya.  

Kemudian aku teringat pada naskah Pembukaan, yang bahkan memulai alinea keduanya dengan kata Dan. Pada dasarnya sedari awal negara disusupi sastrawan yang tidak boleh diatur sebuah institusi – apalagi kalau bernama negara – toh isinya tidak membaca. Bisa jadi memang karena mereka tidak membacalah maka kemerdekaan ada pada penulis? Belum tentu. Kalau mereka membaca? Semua orang merdeka. Sudah tentu.

Jika diminta untuk menceritakan tentang buku ini sebetulnya aku tidak mampu, bagaimana jika kukatakan hanya sekadar untuk bertemu permainan kata yang menarik? Atau jika kubilang buku ini bukan untuk dipahami sebagai sebuah plot? Atau memang dirancang untuk dibaca berulang? Aku hanya berkenalan dengan Cala Ibi, Maia, Amanatia, dan Kau. Dan Aku. 

Tidak peduli apakah di sebuah pulau serupa huruf k, di atas pulau-pulau yang tidak genap seribu, di dalam rumah, di hutan belantara, di rumah sakit, selama itu dituliskan, begitulah kejadiannya. Entah hari ini, esok, tahun 1999, ratusan tahun yang lalu, demikianlah keberadaannya. 


Waktu yang kuhabiskan untuk membaca 273 halaman ini sangat banyak dan aku menyukai waktu-waktu tersebut. Kesedihan adalah awal dan akhir bagi pembaca. Sedangkan awal dan akhir bagi pembaca adalah kebahagiaan. Aku menyukainya tanpa benar-benar tahu apa ini.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkenalan dengan Paya Nie

Aravind Agida dalam Harimau Putih

Seorang Perempuan yang Berlutut kepada Tuhan