Suatu Pria tidak Perjaka yang Merindukan Perawan

Setiap orang bertemu malaikat maut setiap hari. Kecuali nyawa-nyawa yang mencoba menghilang dari ketubuhannya sendiri. 

Suatu pria tidak perjaka mengintai seorang wanita, meminta penghargaan dengan memenjarakan keindahan helai-helai tersandar di pundak pada sehelai kain. Dengan tanpa penghormatan, dia berkata, bahkan di hari pernikahan jika engkau terbukti melakukan hal yang keluar dari batasanku, aku tidak akan melemahkan diri. Entah mengapa suatu pria merasa berhak membatasi tubuh seorang wanita. Kasihan sekali, hanya itu yang dia punya. Kehormatan yang menebeng pada tubuh seorang wanita. 

Seorang yang tubuhnya memikul kehormatan suatu pria kemudian berjalan cepat pada suatu petang yang berbalur lembayung, berburu waktu, mengejar malam. Melawan angin dengan sepeda bermotor, dan tertabrak undur-undur, tepat di bola matanya. 

Penuh penyesalan, Terintai seharusnya tidak membiarkan kacamatanya sendirian di atas meja kasir Indomaret, tak berkepemilikan, mengingatnya dengan perasaan telah kehilangan selamanya, tanpa pernah mencoba kembali ke sana. Hanya ada pemikiran kecil yang tersapu suara ombak tanpa arti, kemudian tidak berbuah tindakan apapun. 

Seorang wanita ikut mengumpat dirinya, setelah mendapat umpatan dari suatu pria tidak perjaka yang merindukan keperawanan. Yang perawan semakin mengumpat dirinya karena mengumpat dirinya sendiri. Begitu seterusnya hingga tak terhingga. Terintai merasa cemburu kepada kacamata, tak berkepemilikan. 

Undur-undur, konon baru akan keluar dari dalam bola mata jika pemilik mata berjalan mundur. Mungkin berjalan mundur yang dimaksud adalah kembali ke Indomaret yang berjarak sembilan putaran album Here We Go Again. 

Jalan keluarnya memang adalah kacamata. Dan waktu? Sebagaimana terlihat oleh mata kiri seorang wanita, ketika mata kanannya berlumur nanah, nanar. Melihat bintang di langit. Sebuah cahaya dari ribuan tahun yang lalu berada di masa sekarang, yang keberadaannya nyata. 

Adakah ruang yang tidak mengenal waktu? Aku ingin kembali ke rahim seorang Ibu. Bertanya mengapa ayah tidak memiliki Yang Maha Penyayang?



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkenalan dengan Paya Nie

Aravind Agida dalam Harimau Putih

Seorang Perempuan yang Berlutut kepada Tuhan