Seekor Semut yang Meledakkan Dirinya di Tahun 2025

 

Seekor Semut yang Meledakkan Dirinya di Tahun 2025



Kisah ini dituliskan melalui kacamata manusia yang begitu mencintai dirinya sendiri, tentang bagaimana dia merasa, bukan bagaimana kebenaran yang sebenarnya terjadi. Sebab kebenaran pun semakin kehilangan diri, semua orang memungut serpihan-serpihan kebaikan yang dapat diyakini sebagai sebuah pembenar hingga menjelmah kebenaran. Sebagaimana sejarah terus menerus ditulis ulang dan dipoles menuju kebenaran baru.

Hari Senin selalu dimulai lebih cepat. Bahkan bagi koloni semut peledak yang hidup dengan sistem nokturnal. Demikianlah kemudian semut pekerja bernama Riu memulai Seninnya lebih cepat lagi, yakni pukul lima sore. Dia ingin melihat dunia lebih awal, menikmati keindahan lebih lama, menangkap ketenangan lebih dekat. Sering dia menemukan kelelawaran yang juga bangun lebih cepat, kadang melihat bekantan beristirahat di pohon-pohon dekat air sebelum akhirnya pulang untuk beristirahat, serta mendapat waktu berpamitan dengan matahari berusia senja. Dengan segala apa yang dia dapatkan dengan memulai hari lebih awal, kebahagiaan adalah kata yang dapat merangkum semua itu. Kebahagiaan yang membuatku berdoa semoga harinya Senin terus.

Matahari pergi membangunkan bulan, koloni mulai bekerja mencari kehidupan. Sembari bersiul kegirangan, Riu berciuman antena dengan Ratu. Tanpa disadari muncul rasa kasihan pada dadanya, membayangkan Ratu yang tidak pernah meninggalkan sarangnya itu setelah lebih dari dua windu. Lebih dari dua ratus generasi semut pekerja yang telah Ratu tangisi kematiannya. Sedangkan dia telah mendapatkan kegembiraan pada awal hari Senin.

Tanpa sadar pada pertemuan antena yang keempat, Riu berpikir akan sangat menyenangkan seandainya dia dapat mengambil gambar dari segala yang dia lihat di luar sarang untuk diperlihatkan kepada Ratu. Namun itu mustahil, dia hanya mampu menggambarkan segala yang dilihat dengan kata-kata. Dan dengan segala apa yang dapat dia lakukan itu, Ratu mendapatkan kebahagiaan yang entah sama atau lebih, atau tidak dapat dibandingkan.

Kebahagiaan Ratu atas kata-kata membuat kebahagiaan Riu menjadi lebih bermakna, sebab kebahagiaannya membawa kebahagiaan pada orang lain. Dan dari kebahagiaan orang lain yang didapatkan dari kebahagiaannya itu, dia mendapatkan kebahagiaan yang baru. Logika matematika ternyata tidak berlaku ketika yang dibagikan adalah kebahagiaan, membagi kebahagiaan ternyata tidak membagi nilainya melainkan menambah dan/atau mengalikannya. Hanya dengan itu, kini Riu mencoba mendedikasikan hidupnya untuk Ratu, lebih dari bagaimana semut pekerja lain lakukan.

Sebagai semut peledak, Riu menjadi sangat berterima kasih banyak kepada alam yang telah menciptakannya dengan otot perut dan kelenjar mandibula beracun. Dengan itu semua dia merasa akan mampu melindungi Ratu dari segala macam serangan dari luar. Sebuah pikiran yang bagiku bodoh. Terkesan heroik namun adalah tindak bunuh diri yang sangat kejam. Aku mencaci Tuhan, mengapa dia memberinya otot yang kuat dan cairan beracun jika hanya untuk melindugi semut lain? 

Hari Selasa dimulai Riu persis dengan hari sebelumnya. Dia bangun lebih awal dan membagi kata-kata lebih banyak dengan Ratu, membagikan kebahagiaannya, dan mendapatkan kebahagiaan dari kebahagiaan sang Ratu. Kebahagiaan mereka menggugah Rannu yang pula sedang berbaris di belakangnya, pelaku kebahagiaan bertambah. Selasa adalah awal mula kata-kata menjadi asal kebahagiaan bagi Riu, Ratu, dan Rannu.

Hari Rabu kembali dimulai sebagaimana hari Selasa dan hari Senin. Perubahannya hanyalah Riu menambah jumlah semut yang padanya ingin dia berikan kata-kata. Demikianlah hari Kamis, Jumat, Sabtu, dan Minggu berlalu dengan semakin banyak koloni yang disebari kebahagiaan melalui kata-kata. Semut pekerja ikut berbahagia dengan cerita-cerita dunia ketika mereka masih mengurung diri di dalam sarang. Kini semua berbahagia. Seolah itu adalah akhir sebuah cerita.

Hingga hari Senin kembali datang. Sebagaimana segalanya selalu dimulai lebih awal pada hari Senin. Senin kedua ini Riu mulai pukul empat sore, sebab ada lebih banyak semut yang padanya akan dibagikan kata-kata. Semuanya berjalan sama persis sebagaimana hari-hari sebelumnya, kecuali kebenaran Ridi yang ternyata tidak menemukan kebahagiaan dari kata-kata tersebut. Ridi lebih memilih untuk menyaksikannya sendiri. Mungkin pula enggan menerima kebahagiaan yang seharusnya dapat dia usahakan sendiri, sebagaimana Riu, Ridi pun semut pekerja, bukan Ratu yang tidak dapat meninggalkan sarangnya. Sebagaimana segala hal tidak selalu berjalan sesuai rencana, kebenaran Ridi membuat Riu menghabiskan harinya dengan bersedih.

Rabu pun datang menggantikan Selasa, tidak menggantikan kesedihan Riu. Tanpa sadar, bukan hanya kebahagiaannya atas kebahagiaan semut lain yang hilang. Kebahagiaannya melihat dunia lebih awal, menikmati keindahan lebih lama, menangkap ketenangan lebih dekat, pun sirna. Tanpa dia sadari secara perlahan kebahagiaannya menyatu pada kebahagiaan orang lain. Hingga ketakbahagiaan orang lain pun kini menjadi ketakbahagiaannya.

Ridi bangun lebih awal di hari Kamis, tidak meyakini bahwa segalanya harus dimulai lebih cepat pada hari Senin. Bertemu dengan Riu yang masih berharap kebahagiaan dengan membagikan apa yang dia dapatkan dengan bangun lebih awal. Mereka menatap segala apa yang ditangkap matanya, hingga kemunculan seekor trenggiling membuat mata mereka terhipnotis rasa ketakutan. Riu tanpa berpikir panjang mengencangkan ototnya untuk meledakkan racun meraroma kari nan mematikan.

Seekor semut peledak hampir saja meledakkan sebuah koloni yang berisi satu manusia dan seluruh kehidupannya.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkenalan dengan Paya Nie

Aravind Agida dalam Harimau Putih

Seorang Perempuan yang Berlutut kepada Tuhan