Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2026

MengAMUK bersama Stefan Zweig

Gambar
MengAMUK bersama Stefan Zweig Ini dia Amuk, karya Stefan Zweig. Diterjemahkan dari bahasa Jerman oleh Tiya Hapitiawati, diterbitkan Moooi Pustaka. Sebuah kumpulan cerita pendek dengan empat judul, yakni:   Amuk, Mandel Sang Kutu Buku, Leporella, dan Dua Puluh Empat Jam Hidup Seorang Perempuan. Mari bicara soal covernya terlebih dahulu, oleh Agus Noor sang Pangeran Kunang-kunang. Dua ikan kecil, perahu kertas terbalik dari koran berisi pesan tentang etika dasar, kemanusiaan, dan penderitaan, sebuah kain yang mengapung di atas cahaya atau entah. Dikelilingi jingga yang membentuk amukan pada laut dan langit lepas menciptakan sebuah kegeruhan tak berujung. Sejujurnya saya tidak begitu mengerti, yang terlihat hanyalah kekelaman. Penceritaannya menarik, menulis dengan teknik orang pertama melalui orang kedua. Satu paragraf bisa sampai beberapa halaman, itu cukup gila sih. Stefan Zweig terlihat menganut kerpecayaan bahwa tulisan itu bercerita tentang suatu masa yang telah lalu. Dan di...

Sepuluh Jam Bersama Zahira

Gambar
  Zahira ini adalah Bintang, membawamu pergi ke suatu tempat yang jauh. Bersama dialah saya menjalani sepuluh jam yang sangat mencekam. Bintang ini datang dari Palu menuju Makassar, membawaku dari Mamuju ke Pangkep cukup dengan membayar dua ratus lima puluh ribu rupiah. Kami berangkat pukul sembilan malam, tanah masih basah akibat hujan dino ketika aku menunggunya di tengah jalan. Hingga sampai di Pangkep, yang terlewati tiada lain selain hujan dan jejak hujan pada tanah. Hueek , betapa menuliskan ini membuatku mual. Berbekal permen karet, camilan, dan air mineral, saya bertarung dengan pikiran akan mual selama perjalanan. Saya tidak pernah mual jika menggunakan Kijang dan sejenisnya, terlebih muntah. Namun sebagaimana biasanya, Bintang selalu mampu membuatku muntah ketika melewati belokan-belokan yang menghubungkan Kalukku, Mamuju, Tappalang, Malunda, dan seterusnya. Begitulah kejadiannya, saya muntah. Jangan salah, ini muntah bukan sembarang muntah. Ini muntah yang memba...

Aravind Agida dalam Harimau Putih

Gambar
Setelah berkenalan dengan karya Jhumpa Lahiri dan R.K. Narayan, saya menjadi semakin sering mencari literatur India. Pencarian ini mengingatkanku dengan buku-buku terbitan Mimamsa yang masih bertengger di rak jualanku. Mimamsa adalah penerbit indie yang khusus menerjemahkan buku-buku terbitan India, di Bandung. Meski akhirnya buku yang kubaca ini bukan dari rak jualan, melainkan buku bekas yang kubeli dari twitter. Harimau Putih, karya Aravind Agida. Berjudul asli The White Tiger dan diterjemahkan oleh Stanley Khu, terima kasih. Bercerita mengenai seorang Mannu, anak tak bernama yang hidup dalam kasta Pembuat Manisan. Bersekolah dengan nama Balram Halwai, sebab nama Ram telah digunakan oleh anak yang lain. Tumbuh sebagai Harimau Putih yang mampu meningkatkan kastanya dengan menjadi seorang supir. Setelah membunuh tuannya, dia berganti nama menjadi Ashok Sharma. Menjadi pengusaha dengan lampu gantung di meja kerjanya. Semua kisah ini dituliskan dalam enam kali malam, dua kali pagi, dala...