Sepuluh Jam Bersama Zahira

 


Zahira ini adalah Bintang, membawamu pergi ke suatu tempat yang jauh. Bersama dialah saya menjalani sepuluh jam yang sangat mencekam. Bintang ini datang dari Palu menuju Makassar, membawaku dari Mamuju ke Pangkep cukup dengan membayar dua ratus lima puluh ribu rupiah.

Kami berangkat pukul sembilan malam, tanah masih basah akibat hujan dino ketika aku menunggunya di tengah jalan. Hingga sampai di Pangkep, yang terlewati tiada lain selain hujan dan jejak hujan pada tanah. Hueek, betapa menuliskan ini membuatku mual.

Berbekal permen karet, camilan, dan air mineral, saya bertarung dengan pikiran akan mual selama perjalanan. Saya tidak pernah mual jika menggunakan Kijang dan sejenisnya, terlebih muntah. Namun sebagaimana biasanya, Bintang selalu mampu membuatku muntah ketika melewati belokan-belokan yang menghubungkan Kalukku, Mamuju, Tappalang, Malunda, dan seterusnya. Begitulah kejadiannya, saya muntah.

Jangan salah, ini muntah bukan sembarang muntah. Ini muntah yang membawaku pada situasi-situasi mencekam beruntun. NU ABO terputar di latar belakang, punggungku berkeringat dingin, saya merasa akan segera memuntahkan segala isi perutku. Dengan lincah tanganku mengambil kantongan dan padanya segalanya dimuntahkan. Saya merasa cukup tenang, bernafas sebentar, kemudian mendapati kehangatan mendatangi pahaku. Kehangatan yang busuk, kantongan itu ternyata bocor.

Tidak perlu khawatir, saya sudah mengalami segala kekhawatiran itu kok. saya harus bagaimana? Chu terputar. Saya hanya bisa diam, sambil merasakan kehangatan itu menempel di sana. Tidak bisa menikmatinya. Maskerku pun ternodai, kulepaskan dan kusatukan dengan kantongan jahanam itu. Saya terus diam dalam beberapa lagu. Kemudian menyadari jilbabku pun terkena noda. Saya ingin turun di jalan dan mengucapkan selamat tinggal kepada Zahira.

Berharap situasinya membaik, hingga keinginan untuk membuang isi perut di toilet pun menghampiriku. Sayalah yang ke mana-mana pasti berak itu, dan ini sungguh menyiksaku. Saya mencoba menahannya selama mungkin, namun hingga waktunya sudah tinggal meledak, saya meminta temanku menelpon Sang Bintang. “Saya mau berak, mau sekali ma” itulah yang kukatakan dengan penuh percaya diri agar Zahira berhenti terlebih dahulu. Sang Bintang terus-terus berteriak, “yang mau berak, turun maki cepat” membuatku mengangkat tangan dalam khayalanku dan berkata siap dengan lantang.

Dan itu pun bukan muntah yang pertama dan terkahir kalinya, saya terus-terusan muntah. Hingga rasa yang sangat pahit keluar dari mulut, entah cairan apa itu. Mungkin karena tidak ada lagi yang dapat dikeluarkan, sehingga cairan yang telah tertanam dalam tulang ikut keluar. Sepuluh jam yang sungguh membuatku mual bahkan hanya dengan mengingatnya.

Alasanku menulis ini sebenarnya agar bisa menertawakan kejadian itu dan bersiap untuk beberapa hari ke depan kembali di jalur yang sama. Namun ternyata, saya malah semakin takut untuk kembali mengalami kejadian yang sama.

Dimohon saran yang mendukung!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkenalan dengan Paya Nie

Aravind Agida dalam Harimau Putih

Seorang Perempuan yang Berlutut kepada Tuhan