MengAMUK bersama Stefan Zweig
MengAMUK bersama Stefan Zweig
Ini dia Amuk, karya Stefan Zweig. Diterjemahkan dari bahasa Jerman oleh Tiya Hapitiawati, diterbitkan Moooi Pustaka. Sebuah kumpulan cerita pendek dengan empat judul, yakni: Amuk, Mandel Sang Kutu Buku, Leporella, dan Dua Puluh Empat Jam Hidup Seorang Perempuan.
Mari bicara soal covernya
terlebih dahulu, oleh Agus Noor sang Pangeran Kunang-kunang. Dua ikan kecil,
perahu kertas terbalik dari koran berisi pesan tentang etika dasar,
kemanusiaan, dan penderitaan, sebuah kain yang mengapung di atas cahaya atau
entah. Dikelilingi jingga yang membentuk amukan pada laut dan langit lepas
menciptakan sebuah kegeruhan tak berujung. Sejujurnya saya tidak begitu
mengerti, yang terlihat hanyalah kekelaman.
Penceritaannya menarik,
menulis dengan teknik orang pertama melalui orang kedua. Satu paragraf bisa
sampai beberapa halaman, itu cukup gila sih. Stefan Zweig terlihat menganut
kerpecayaan bahwa tulisan itu bercerita tentang suatu masa yang telah lalu. Dan
diceritakan oleh seseorang kepada orang lain yang ada di masa kini. Format
semacam ini terus berulang di empat cerita tersebut. Nah, itu yang membuatku
senang membaca buku ini dengan bersuara. Berasa menjadi pencerita yang baik.
Dalam 215 halaman ini,
pertama: Amuk bercerita mengenai rasa bersalah seorang dokter yang tidak mampu
menyelamatkan seorang pasien, yang kemudian menjadi amukan tak terkendali. Kedua:
Mandel Sang Kutu Buku yang hidupnya berakhir tragis karena hari-harinya hanya
untuk membaca buku tanpa melihat apa yang sedang terjadi di sekitarnya.
Kemudian: Leporella, saya lupa bahas apa. Terkahir: Dua Puluh Empat Jam Hidup
Seorang Perempuan menunjukkan betapa waktu itu sangat ajaib, waktu yang singkat
dapat membawamu pada sebuah keputusan yang sangat besar, mengubah hidupmu
seutuhnya, menanggalkan segala apa yang ada, hidup dalam keadaan yang baru sama
sekali.
Eh, ingat deng.
Leporella membahas mengenai loyalitas seorang pembantu terhadap majikannya yang
berasal dari daerah yang sama. Membantunya menyembunyikan perempuan-perempuan
penghibur sang majikan, kemudian membunuh si istri yang terlalu cerewet.
Keempat cerita ini
terikat oleh satu hal: obsesi. Obsesi menebus kesalahan, obsesi akan
pengetahuan yang dimiliki, obsesi akan loyalitas, obsesi akan hal baru yang
begitu menggetarkan. Dan begitulah semuanya menjadi jingga dalam kelam.
Selamat membaca.

Komentar