Dari Makassar ke Surabaya


Dari Makassar ke Surabaya



Ngapulu adalah kapal yang membantu perjalanan pertamaku menggunakan kapal laut, dengan tiket non seat.  Yah, ini yang pertama dan sungguh membingungkan. Untung saja, ada suami kakakku yang membantu mencari tiket hingga mengantar ke atas kapal sembari membawa koperku yang berukuran cukup besar. Tidak semudah kedengarannya sebab kami harus mondar mandir keliling pelabuhan karena Dia pun belum pernah ke sini. Aku merasa bersalah telah banyak merepotkan, tapi “terima kasih, kak” itu yang aku pilih untuk diucapkan.

Setelah ditinggal sendirian di kapal, aku mencari tempat yang tepat untuk kutempati. Dek 2 telah penuh, aku lanjut ke Dek 3 dan hingga 4 ternyata masih penuh. Kemudian Dek 5, aku menatap ke seluruh ruangan dan hampir penuh kecuali sebuah tempat kosong sebesar 1x1 meter di dekat pintu, aku akhirnya memilih tempat itu dan duduk menyendiri di sana seolah terasingkan, atau mungkin mengasingkan diri. Selang beberapa menit, kuperhatikan seorang ibu dan anaknya yang kemungkinan seusia denganku. Aku memberanikan diri mengajak mereka berbicara dan ternyata mereka berasal dari Bulukumba.

Percakapan tidak terlalu panjang, kemudian hening kembali.

“Jangan di pintu, nanti pintunya ditutup. Sebaiknya pindah dari sekarang!” kata seorang bapak yang berdiri di hadapanku. Sial! Aku akhirnya merapikan seluruh barangku seraya berpikir keras harus ke mana lagi? Tiba-tiba, seorang lelaki menawariku tempat duduknya yang berada di sebelah kanan ibu dan anak yang kubicarakan tadi. Aku tidak menolaknya, “terima kasih” kata itu kembali terucap. Hingga saat ini, aku percaya bahwa Indonesia masih dipenuhi oleh orang-orang baik. 

Beberapa menit setelah berpindah tempat, seorang ibu dan putrinya yang cantik duduk di sebelah kananku, ia sempat menanyakan soal lelaki yang membiarkanku menggunakan tempatnya. Setelah itu kami mengobrol dan ternyata dia adalah orang Mandar, yah! Kami berasal dari tempat yang sama. Bedanya dia berasal dari Pambusuang, daerah yang terkenal religius di tanah Mandar. Pembicaraan kami terus berlanjut hingga kudapati bahwa ternyata si Ibu pernah ke kampung halamanku di Pulau Kulambing, Pangkep. Semua orang sangat baik padaku, tidak seperti apa yang ditakutkan keluargaku. 

Mereka terlalu takut membiarkan seorang perempuan berusia 21 tahun bepergian sendiri keluar kota, padahal ini bukan kali pertama aku keluar kota seorang diri. Bahkan, aku mengira tidak akan bisa tidur karena mereka mengingatkanku untuk tidak meninggalkan barang-barangku. Lucu mengingatnya, di sini aku malah berjalan-jalan dengan si putri cantik dan si teman baru yang berasal dari Bulukumba tanpa memikirkan barang bawaanku.

Perjalanannya cukup panjang, kami harus menanti 25 jam di tempat ini. Beberapa waktu kuhabiskan untuk tidur, membaca buku Mark Manson “Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodoh Amat”, dan memutar satu-satunya video offline yang ada di hpku “I Will Go To You Like The First Snow” yang dicover oleh Sejong Gudugan. 

Karena aku berada di Dek 5 yang berdekatan dengan pintu, sebagian waktuku juga kuhabiskan untuk melihat ombak. Sungguh indah! Aku tidak bosan melihat ombak bertabrakan dengan ombak lainnya hingga membentuk buih berwarna putih bersih. Layaknya sebuah film, aku mampu menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menatapnya. Semakin putih semakin cantik, meskipun artinya semakin deras ombaknya. Terus kenapa? Selama itu tidak membalikkan kapal besar ini. 

Banyak yang terjadi di sini, ada segerombolan bapak-bapak dari Indonesia timur asyik berbicara soal pemilihan umum, ada juga bapak-bapak berjenggot yang menyiarkan Islam ke seluruh Dek, dan yang paling sering muncul adalah penjual kopi, nasi, pop mie dan lain-lain. Ada juga kakak laki-laki yang menawarkan diri untuk mengantri makanan kami, tapi setelah mengantri lama dan mendapatkannya makanannya si Kakak malah membeli yang baru untuk kami "sedikit sekali" katanya. Enak banget yah jadi orang Indonesia. 

Ada juga bapak berbaju putih yang menegur buku bacaanku. “kenapa masa bodoh? Buku apa itu?” katanya agak lantang membuat orang sekitar menoleh ke arahku “kenapa buku begitu dibaca?” dan akhirnya hampir seluruh orang yang menoleh menganggapku aneh. ‘Dont judge a book by its cover’ kataku dalam hati. Tapi aku malah bodoh amat dan hanya tersenyum.

Itu saja yang ingin kuceritakan, sebab tidak ingin bercerita persoalan fasilitas yang ada, jangan sampai cerita ini berakhir menjadi tulisan aktivis yang berbicara tentang kinerja pemerintah.

Meskipun tanpa internet, aku ternyata masih bisa hidup dan merasa bahagia. Perjalanan ini akan menjadi sejarah untukku, karena itu perlu kuabadikan. Barangkali akan bermanfaat untuk bangsa dan negara, hehehe!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkenalan dengan Paya Nie

Aravind Agida dalam Harimau Putih

Seorang Perempuan yang Berlutut kepada Tuhan