Kepala Suku Mojok berada di Tengah
Kepala Suku Mojok berada di Tengah
-Hanya foto ini yang sempat saya ambil, maaf
jika melukai mata kalian-
Pertama-tama,
terima kasih banyak kepada Nusa Pustaka karena telah berdiri kokoh dengan luas
yang cukup sehingga dapat menampung manusia sepertiku. Pun untuk Kopi Cap
Maraqdia yang telah memani malam romantis itu.
Sekitar
lima puluh ribu detik yang lalu saya bersama dengan orang-orang hebat berada
dalam satu lingkaran bertemu dengan Puthut EA dalam Diskusi Literasi. Perlu anda
ketahui, kala itu saya duduk tepat di hadapan Kepala Suku Mojok tersebut. Inilah
yang menjadi alasan mengapa tak ada satu pun wajahku yang tertangkap kamera
dalam kegiatan ini.
Diskusi
itu sangat berbobot, karena itu tidak ada tempat untuk orang seperti saya berpikir.
Satu persatu yang lain bertanya, mengungkapkan pendapat dan juga menyanggah. Terus,
apa gunaku di sini? Tepat sekali! Sebagai penonton.
Otakku
mulai mengerdil ketika mereka berbicara tentang Yunani Kuno, Peradaban Islam,
Oral, Kebudayaan dan berbagai macam pembahasan lainnya. Bagaimana tidak? Saya harus
mendengar dosen yang mengajariku di kampus sebagai sesama peserta diskusi, Kak
Muja yang merupakan pendiri Litera Pandita dan orang-orang penting lainnya.
Tenang
saja, saya pun menyiapkan pertanyaan jikalau nanti dipersilahkan. “harga
kecamata bapak berapa? Ukuran bajunya berapa? Anda siapa?” *hahaha*. Jujur saja,
saya tidak begitu mengenal Puthut EA, yang saya tahu hanyalah Mojok. Saya datang
kala itu hanya karena terdapat kata ‘Mojok’ yang dituliskan Kak Muhammad Ridwan
Alimuddin di Facebooknya.
Biasanya
ketika bertemu dengan penulis, kita cenderung meminta tanda tangan di halaman
pertama bukunya. Sayang sekali, saya sama sekali tidak memiliki satu pun buku
yang ditulis Puthut EA. Saya memang tidak begitu gemar membeli buku fiksi
padahal di sisi lain saya bercita-cita menjadi penulis cerita fiksi. ‘Penulis
yang baik adalah pembaca yang baik’ saya 3 kali mendengar kalimat ini dari orang
yang berbeda dari berbagai kegiatan, salah satunya pendiri Nusa Pustaka. Entah kenapa,
saya malah tidak ingin membaca novel sebelum menerbitkannya. Tolonglah jangan
menghardik saya karena hal itu.
Di
tengah-tengah diskusi, akhirnya kutemukan sesuatu yang dapat mengisi status WAku.
Setidaknya satu status baru akan memberikan alasan bagi para jomlowan jomlowati
untuk klik-klik hpnya.
Maqom tertinggi dari sebuah
literasi ialah ketika kita mampu menuliskan lingkungan sekitar.
-Puthut EA-
-Puthut EA-
Tentu saja, bukan hanya itu yang dapat diambil
dari diskusi ini, tapi saya takut untuk menuliskannya. Takut, nanti salah
paham. Otakku memang tidak tercipta begitu baik.

Komentar