Sekamar dengan Pace dan Mace


Sekamar dengan Pace dan Mace


                                                       Foto dari om Google yah!

Assalamualaikum,

Di tengah persoalan saudara kita, Papua. Saya memiliki kenangan indah dengan mereka yang belum sempat saya tuliskan. Anda pernah membaca tulisanku ‘Dari Makassar ke Surabaya’? kali ini perjalanan dari Surabaya ke Makassar.

Kejadiannya sekitar tiga bulan yang lalu, tepatnya pada bulan Ramadhan. Menggunakan kapal menyeberang lautan dengan jangkah waktu yang cukup panjang. Dengan tubuh mungil ini, saya dibantu awak kapal untuk mengangkat barang dan menemukan tempatku. SEAT! Itu yang tertulis dalam tiket dan Alhamdulillah kali ini saya mendapatkan jatah kamar. Dalam satu kamar memiliki empat kasur bersusun, yang artinya dapat dihuni oleh delapan orang. Sepintas saya langsung mengenali mereka sebagai orang Papua, di dalam ruangan itu telah dihuni oleh dua orang Mace yang ternyata telah berada di atas kapal semenjak empat hari yang lalu, kalau tidak salah.

“Ade, mau kemana?”

“ke Makassar, Mace mau kemana?”

Saya bahkan lupa dengan nama tempat yang dia katakan, sungguh tidak terduga. Setelah agak lama menunggu penumpang lain, datanglah lima Pace. Tiga diantaranya seumuran denganku, satunya lebih tua, dan satu lagi pantas menjadi bapak. Saya berada satu kamar dengan orang-orang Papua, saya cukup bahagia karena baru kali menjadi orang yang lebih putih diantara yang lain. Kenyataan lainnya adalah bahwa saya satu-satunya orang Islam disini.

Saya terlahir di pulau yang tentu saja sering melakukan perjalanan di atas lautan, tapi tidak pernah sepanjang ini. Perjalanan pertamaku memang berjalan lancar namun perjalanan kedua ini sangat berat, mungkin karena efek berpuasa. Kapal terasa bergoncang sangat kencang dan saya hanya mampu tiduran, bergerak sedikit langsung mual.

“Ade, tidak apa-apa saya makan yah?”

“Tidak apa-apa kak, sudah buka” saya sedikit tersenyum

“Ade sudah buka, tadi kami bawa makanan” tambah Mace sambil tertawa terbahak-bahak

Benar sekali, karena saya begitu pusing dan tidak bisa berdiri. Mace meminta tiketku untuk mengambil jatah makanan buka, tidak hanya itu, mereka bahkan membawaku ke tingkat paling atas untuk shalat Magrib. Mengantarku ke kamar mandi, menunggu disana. Bahkan kami berbagi makanan dan berbagai cerita sesekali waktu jika perasaanku mulai baikan. 

Tidak hanya itu, saya hampir jantungan karena dibangunkan oleh Pace yang tidurnya pas di samping kasurku. Untuk menghindari kesalahpahaman, kasur kami berjarak sekitar satu meter lebih. Hanya saja kami berada pada tingkat bawah jadi lebih akrab. Saya bahkan diajak menyanyi agar tidak pusing, dia cukup ribut sebernanya tapi berhasil mencairkan suasana. Kami sempat duet lagunya Adele yang berjudul Someone Like You. Oh iya, ternyata dia membangunkanku untuk makan sahur kemudian mengantarku untuk shalat subuh.

Yang paling saya ingat adalah ketika telah sampai di Makassar. Mace memelukku sebelum keluar sedangkan para Pace dengan tanpa menawarkan diri, langsung membawa semua bawaanku. Saya sebenarnya sedikit khawatir karena semua barangku dibawa oleh orang yang baru kukenal dan mengira mereka akan membawanya lari. Astagfirullah, saya berprasangka buruk kepada saudara setanah air. Maafkan saya dan terima kasih atas segalanya.

Untung saja ada mereka, padahal dari tadi saya berpikir keras bagaimana cara untuk membawa barang-barangku sendirian, terlebih lagi tidak ada uang yang tersisa untuk membayar awak kapal. Saat-saat seperti inilah yang membuatku sadar bahwa saya lagi di Indonesia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkenalan dengan Paya Nie

Aravind Agida dalam Harimau Putih

Seorang Perempuan yang Berlutut kepada Tuhan