[Review Buku] I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki - Baek Se Hee

I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki dan Baek Se Hee

I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki - Baek Se Hee
Akhirnya selesai juga membaca buku ini, saya bahkan mulai dari awal lagi dua hari yang lalu karena kehilangan emosi setelah mengendapkannya selama berminggu-minggu di tumpukan buku. Bukan karena bukunya tidak menarik akan tetapi saya ‘sok sibuk’ akhir-akhir ini. Kebetulan saya diberikan kesempatan membaca buku Guns, Germs & Steel yang sepertinya tidak akan kubeli untuk saat ini.

Cover buku dengan warna yang lembut ditambah gambar perempuan dengan selimut, hp dan pot bunga menyenangkan dipandang. Aroma buku ini lebih adiktif dari buku-buku biasanya karena menggunakan tinta warna yang banyak pun warna yang sangat mencolok, mataku kesakitan karenanya. Saya sampai bertanya-tanya apakah dia adalah Blink? BlackPink in your area! Susah sekali untuk membaca tulisan berwarna hitam di atas kertas berwarna pink cerah. Cukup sampai di sini, saya harus lanjut ke isi buku.

Buku ini berisi tidak kurang dari 97% proses konseling antara Baek Se Hee (penulis) dengan psikiaternya. Sisanya diisi esai-esai pendek sederhana yang kebanyakan  ditumpuk di halaman belakang. Buku berjudul I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki ini #1 Bestseller di Korea Selatan dengan jumlah halaman 231 diterbitkan oleh Penerbit Haru. Diterjemahkan oleh Hyacinta Louisa.

Judul buku ini mengandalkan “Tteokpokki” (makanan khas Korea Selatan berupa kue beras yang dimasak dalam bumbu pasta cabai yang pedas dan manis) agar lebih menarik dibanding harus mengatakan bahwa dia kelaparan. “I Want To Die But I Am Hungry” Mau mati tapi masih sempat lapar, seperti itulah. Namun Tteokpokki memiliki nilai sendiri karena merupakan makanan kesukaan sang penulis.

Saat membaca percakapan mereka, saya juga merasa sedang melakukan konseling. Beberapa pertanyaan yang dilontarkan pun pernah terlintas dipikiranku dan akhirnya saya mendapat jawabannya melalui buku ini. Se Hee rupanya sangat pemberani, sebagaimana dia mencantumkan masalah keluarga tepat pada pembahasan awal. Karena itu saya tidak mengerti dari mana air mata yang begitu banyak dari perempuan yang berani ini? 

Buku yang sengaja diputuskan di tengah-tengah konseling sungguh masuk akal untuk membeli sekuelnya, meski hanya sekadar percakapan antara pasien dan psikiater buku ini menjadi best seller. Kejujuran dan kenyataan (mungkin ada sesuatu yang dikurangi atau ditambahi) itulah yang memberi nilai tersendiri. Se Hee menunjukkan kemampuan berbicaranya di hadapan psikiater. Bagaimana keadaanmu sekarang?

Sebentar lagi Juni!

I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki 2 melambai-lambai dari Haru.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkenalan dengan Paya Nie

Aravind Agida dalam Harimau Putih

Seorang Perempuan yang Berlutut kepada Tuhan