[Review Drama] When The Camellia Blooms (2019)

When The Camellia Blooms

[Review Drama] When The Camellia Blooms (2019)


Jika kalian pencinta drama Korea maka sangat tidak mengherankan untuk mengenal Gong Hyojin. Nah, di drama ini dia berperan sebagai Oh Dongbaek, ibu tunggal tanpa pernah menikah. Terdengar sangat tabu, tetapi bukankah itu lebih baik dari pada tidak bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri? Tentu saja saya tidak mengatakan bahwa hal yang dilakukannya adalah pilihan terbaik tetapi setidaknya “lebih baik”.

Setelah melahirkan anaknya, Oh Dongbaek pindah ke Ongsan dan membuka bar bernama Camellia. “Bekicotnya 15.000 won, tumis babi 12.000 won, dan kerang 8.000 won. Tapi harga itu tak termasuk hakmu menyentuhku atau senyumku. Aku menjual alkohol. Di sini kamu hanya bisa membeli alkohol. Itu saja!” kalimat keren tersebut membulatkan rasa suka Hwang Yongsik kepadanya.

 Hwang Yongsik diperankan oleh Kang Haneul, aktor yang baru saja (2020) meraih Penghargaan Seni Baeksang untuk Kategori Televisi: Aktor Pemeran Utama Terbaik yang sebelumnya (2016)  juga meraih SBS Drama Award for Excellence in Acting - Fantasy Drama ketika berperan dalam Moon Lovers: Scarlet Heart Ryeo. Satu lagi, aktor yang satu ini membuatku iri karena dalam acara Traveler Season 2, dia bersama Onge dan Ahn Jae Hong melakukan perjalanan ke Argentina, mendahului impianku ke Iguazu.

Lanjut! Drama komedi romantis ini berisi 40 episode, cukup jarang drama Korea dengan jumlah episode seperti itu. Biasanya 16/32 episode. Setelah menonton drama ini menyadarkan bahwa Kang Haneul memang pantas untuk penghargaan tersebut. Gong Hyojin pun menampilkan akting yang bagus seperti biasanya, namun kali ini dia tampil sangat cantik.

Yongsik dipindahkan dari Seoul ke Ongsan, kampung halamannya karena memukul tersangka kurang ajar di hadapan para wartawan. Dia adalah polisi yang diangkat karena meraih banyak sekali penghargaan sebagai “Warga Sipil yang Berani”, menangkap pencuri, penjahat dan lain-lain. Hanya saja dia tidak mampu mengendalikan emosinya ketika melihat ketidakadilan dan hal itulah yang membuatnya tidak ‘begitu profesional’ sebagai polisi dan berakhir dengan penurunan pangkat. Karena itulah dia menemukan pujaan hatinya, Dongbaek.

Yongsik adalah pria yang tulus bahkan sangat jujur, dengan gamblang mengungkapkan rasa sukanya kepada Dongbaek, bahkan setelah mengetahui bahwa perempuan tersebut sudah memiliki anak. Kali ini, dia harus merebut 2 hati. Tidak sampai di situ, Kang Jongryul, ayah biologis Pilgoo (anak Dongbaek) pun datang untuk kembali menjalin kasih dengannya dan akan menceraikan istrinya yang sekarang. Satu lagi, Yongsik harus bisa membujuk ibunya agar bisa menerima Dongbaek sebagai menantu.

Selain masalah hati, restu dan persaingan, terdapat masalah lain yang cukup mengerikan. Dia adalah “Pengusil” yang telah membunuh 4 orang dan selanjutnya membunuh Hyangmi (pegawai Camellia) yang sekaligus teman masa kecil Dongbaek. Sebagai polisi sekaligus orang yang mencintai Dongbaek, sangat wajar bagi Yongsik untuk terus memberi perlindungan kepada Dongbaek, sebagai salah satu incaran pengusil.

Hyangmi meninggal setelah mengatakan akan berubah esok hari. Yu no wat? Ini sungguh mengusik, dia berhasil menyampaikan pesan agar tidak menunggu hari esok untuk berubah dan tidak semua orang memiliki hari esok maupun kesempatan kedua. Saya sampai kebawa mimpi.

Karena ketabahan Dongbaek, dia berhasil melahirkan Pilgoo (Kim Kanghoon), seorang anak yang sangat dewasa untuk umur 8 tahun. Dia mengatakan bahwa ibunya secantik Tzuyu dan akan bahagia jika mengikat rambutnya seperti Dahyun. Karena tidak pernah merasakan memiliki seorang ayah, dia bahkan tidak merindukan ayahnya dan merasa bahwa bersama dengan ibunya sudah lebih dari cukup, sudah cukup bahkan tanpa harus ada Yongsik untuk berada di sisi ibunya.

Yang mengesalkan adalah melihat bagaimana Deoksoon, ibu Yongsik, tidak menerima Dongbaek untuk mendampingi anaknya meskipun selama ini menjalin hubungan baik dengan Dongbaek dan mengikat hubungan mereka sebagai best friend, membuatku berpikir bahwa ibu-ibu yang membenci Dongbaek dari kecil hingga sekarang hanya menunjukkan reaksi yang lebih cepat. Mereka mengambil langkah lebih awal untuk menjauhkan anak-anak mereka dengan seorang anak yatim piatu dan ibu tunggal tanpa pernah menikah. Toh, sebaik apapun Doeksoon, dia tidak ingin merelakan anaknya berdampingan dengan Dongbaek. Sungguh mengesalkan, padahal akhirnya dia menyerah juga dan membiarkan mereka hidup bersama.

Pada kasus lain, Ibu Dongbaek kembali setelah 27 tahun meninggalkan anaknya, sungguh tidak bisa saya terima bahkan dengan alasan apapun. Dia kembali dan memberikan kebahagiaan baru kepada Dongbaek dan Pilgoo, tetapi menurutku ini berlebihan. Seperti harus menunggu 27 hari loading film Edward Scissorhands ketika yang lain sudah menontonnya puluhan tahun yang lalu.

Sebagai salah satu orang yang menonton cukup banyak drama Korea, saya sangat sering bertemu dengan ending yang disajikan drama ini. Ditambah rahasia-rahasia yang terlalu drama dan ditumpuk di episode terakhir dengan kisah-kisah yang terlalu manis.

Hanya ada satu yang tersisa, kebenaran bahwa ada “Pengusil” lain di mana-mana dan tidak akan pernah berkahir. Namun When The Camellia Blooms mengajarkan untuk  percaya hanya ada 1 dari 100 orang yang memilih menjadi jahat dan tentu saja kebaikan akan selalu menang, baik secara jumlah, niat maupun hasil.

Selamat menonton.

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkenalan dengan Paya Nie

Aravind Agida dalam Harimau Putih

Seorang Perempuan yang Berlutut kepada Tuhan