[Review Film] Little Women (2019)

Little Women (2019)

[Review Film] Little Women (2019)

Saya selalu spontan menghargai karya-karya yang bercerita tentang perempuan, terlebih lagi jika itu mengenai kesetaraan gender. Tidak perlu lebih tinggi, cukup sederajat. Jo berhasil membuatku menemukan itu di sini meski dengan porsi ‘lain’.

Diangkat dari novel milik Louisa May Alcot, Little Women bercerita tentang empat perempuan bersaudara dari keluarga March dengan ceritanya masing-masing untuk menemui kebahagiaannya. Disutradarai oleh Greta Gerwig berhasil mendapat 7,9/10 dari ‎110.175 suara. Hingga saat ini telah berhasil mendapatkan 7 penghargaan. Selamat! Di Indonesia sendiri telah dirilis pada 7 Februari 2020.

Pertama adalah Jo yang diperankan oleh Saoirse Ronan. Perempuan yang menulis Little Women dan mengajak kita menyusuri kembali kehidupan mereka dengan alur maju mundur. Alur yang menurutku keren, dengan potongan-potongannya yang membuat kita selalu merasa ‘tiba-tiba’. Jo menggangap bahwa kebahagiaan seorang perempuan tidak didapatkan dengan menikah, perempuan butuh kebebasan, tidak lemah, dan dapat menafkahi keluarganya. Karena itulah dia rela menanggalakan beberapa lembar kertas tulisannya, mengubah alurnya dan lain-lain hanya untuk mendapatkan uang demi keluarganya.

Selanjutnya adalah Meg yang diperankan oleh Emma Watson, si cantik dengan gaun ungu kesukaannya. Jo dengan keinginannya akan kebebasan dalam meraih kebahagiaan sungguh mengagumkan namun bukan berarti Meg yang memilih menikah lebih awal tidak  mengharapkan kebahagiaan. Setiap orang memiliki cara yang berbeda dan memiliki John sebagai suami sudah lebih dari cukup, meski tidak sekaya Laurie (Timothee Chalamet) namun dia selalu mencoba melakukan yang terbaik untuk istrinya, pun untuk anak-anaknya Daisy dan Demi yang manis.

Ada juga Amy (Florence Pugh), si pelukis yang mencintai Laurie. Laki-laki yang mencintai kakakknya, Jo namun berencana menikahi Fred yang lebih kaya dari Laurie sebagai jalan bahagiannya toh dia tidak berpikir bisa mendapatkan Laurie. Indahnya, setelah Jo menolak Laurie dia berbalik mencintai Amy dan akhirnya membuat Amy menolak Fred.

Terakhir adalah Beth, si pendiam penyuka piano. Sungguh menyedihkan bahwa Beth harus pergi selamanya dengan cepat. Namun itu hanya secuil kesedihan dari begitu banyak kebahagiaan yang dia dapatkan dari keluarganya. Dia hanya berhasil mendapatkan segala kebahagiaannya lebih cepat.

Ini adalah sebuah karya yang menyajikan kebahagiaan yang mengharukan atau mungkin kesedihan yang membahagiankan dan membuatmu merasa terharu.

Saya paling suka ketika Amy membakar tulisan Jo karena kekesalannya tidak diajak ke sebuah pertunjukan teater. “Yang kau pedulikan hanya menulis. Aku tidak bisa menyakitimu dengan merusak salah satu pakaianmu, dan aku sungguh ingin menyakitimu. Aku sungguh menyesalinya sekarang. Maafkan aku.” kalimat ini begitu bermakna. I like it so bad.

Terakhir, Jo berhasil membangun sekolah untuk perempuan dan laki-laki dari rumah warisan Bibi March, menikahi Friedrich, dan menjadi dirinya sendiri sebagai penulis (Jo March) bahkan tidak menyerahkan copy rigth­-nya karena ingin memiliki hak itu sendirian dan menerbitkan  Little Women.

Selamat menonton!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkenalan dengan Paya Nie

Aravind Agida dalam Harimau Putih

Seorang Perempuan yang Berlutut kepada Tuhan