[Review Film] Send Me To The Clouds (2019)
Send Me To The Clouds (2019)
![]() |
| [Review Film] Send Me To The Clouds (2019) |
Diperankan oleh Yao Chen sebagai Sheng Nan, seorang jurnalis yang mengidap kanker ovarium karenanya butuh dilakukan kemoterapi dan operasi dengan biaya yang besar. Dengan pertimbangan tersebut dia memilih untuk menulis autobiografi seorang seniman, Ayah Li Ping yang cukup mengesalkan bagi Sheng Nan.
Send me to the clouds dirilis di Tiongkok pada 16 Agustus 2019, berhasil membawa Yufang Wu (Ibu Sheng Nan) meraih Penghargaan Golden Rooster untuk Best Supporting Actress. Dengan durasinya yang cukup singkat (1 jam 33 menit), film ini meraih rekor 6,2/10 IMDb.
Dalam perjalanan pertama kali ke gunung, tempat Ayah Li Ping berada Sheng Nan bersama ibunya bertemu dengan Liu Guangming yang begitu baik membayarkan peti mati yang tenggelam bahkan membiarkan dirinya dibodohi dengan meminta uang tambahan. Kesan yang sangat menonjol, ditambah lagi percakapan mereka ketika berada di perahu.
Guangming adalah penganut ajaran Plato, sedangkan Sheng Nan lebih percaya dengan Aristoteles bahwa jiwa tidaklah kekal. Mati berarti mati! Saya begitu kagum dengan pengetahuannya yang begitu mendalam hingga akhirnya mengetahui bahwa itu semua hanyalah sekadar ilmu yang tidak terapan, di keluarganya dia tidak terlihat. Tidak ada penghormatan sekalipun dari istrinya, kecuali fotonya yang dipajang di tempat alas kaki sehingga membuat orang lain terlihat membungkuk padanya. Hingga pada suatu titik dia mencoba bunuh diri namun tidak berhasil dan hanya mengalami luka dan berakhir dengan kursi roda. Dia menjadi sangat gila penghormatan meski hanya dalam bentuk fisik semata.
Film yang sangat filosofis ini mengajarkan kita tentang kehidupan, keluarga, percintaan dan arti diri kita sendiri. Terlihat bagaimana Sheng Nan memilih meminta maaf dan melanjutkan autobiografinya setelah meledakkan emosi Li Ping karena mengatainya cacat fisik, mungkin di bagian “anu”-nya seperti Hitler karena sifatnya yang kejam.
Di sisi lain Mao Cui, orang yang akan mengambil 20% dari hasil autobiografi tersebut mencapai dasar kemaluannya setelah begitu mencintai uang dan menjadi orang yang mengerjakan pekerjaan-pekerjaan bodoh dan kotor bagi Sheng Nan. Dipermalukan oleh Li Ping, orang yang seharusnya sangat memalukan juga di tempat persembahan terakhir ayahnya.
Pada akhirnya, Sheng Nan dibawa ke ruang operasi dan melambai dengan gembira. Seolah jiwanya berada di pegunan yang indah dan tidak akan pernah mati.
Selamat menonton

Komentar