[Review Buku] Orang-Orang Oetimu-Felix K. Nesi

 

Orang-Orang Oetimu-Felix K. Nesi

[Review Buku] Orang-Orang Oetimu-Felix K. Nesi

 

Buku dengan sampul berwarna putih -sedang dalam rencana pembuatan cover baru- yang diterbitkan Marjin Kiri ini adalah Pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2018, ditulis oleh Felix K. Nezi dengan judul Orang-Orang Oetimu.

Yang keren dari buku ini adalah latar kejadian dan waktunya, membuat orang yang tidak pernah mendengar ‘Oetimu’ sedikit banyak belajar tentang mereka, mulai dari yang sangat sepele hingga yang amat penting. Budaya, adat, bahasa, hingga cara memaki dan meludahi orang. Mengenang tahun 1998 dan tahun sebelumnya dengan ingatan yang berbeda dan perasaan yang berbeda pula. Didominasi perasaan berdosa dan ingin bunuh diri saja.

Sebelum membaca buku ini, yang kutahu, Felix adalah orang yang merusak kaca pastoran, kursi pastoran, dan helmnya sendiri karena mempertanyakan otoritas gereja dalam menangani kasus kekerasan seksual. Setelah membaca novelnya saya sangat bahagia bahwa Felix K. Nesi sempat ‘ditahan’ karena perbuatannya tersebut, ini membuktikan bahwa apa yang ditulis dalam novel ini bukan fiktif belaka.

Felix adalah penulis yang menjelma menjadi pembunuh bayaran berencana dalam Orang-Orang Oetimu, menjadikan dirinya sendiri sebagai pemeran utama dalam novel ini dan membunuh semua orang yang awalnya dianggap pemeran utama. Mereka memang pantas mati saja.

Untung saja Am Siki tidak meninggal dalam tidurnya, karena jika tidak, saya akan sangat membenci Sersan Ipi. Kematian Sersan Ipi pun adalah kebaikan untuknya, bayangkan saja jika Sersan Ipi harus menikah dengan Silvy, hanya untuk dijadikan bapak dari anaknya (seandainya Linus tidak mandul). Padahal cintanya membara seperti halnya nafsunya. Juga Maria yang jiwanya telah hilang dimakan penyesalan tentu saja dia lebih memilih mendekam di neraka dibanding harus menerima ampunan dari Tuhan. Semuanya berhak mati.

Felix betul-betul merencanakan pembunuhannya dengan baik, menamai perempuan yang disukai Romo Yosef dengan Maria, sehingga mengerang pun dianggap sedang merindui Tuhannya.

Dengan lincah Dia menunjukkan bahwa setiap orang itu brengsek, baik yang menjajah ataupun dijajah, maupun yang dijajah dan menjajah. Meski dia adalah seorang pastor, perwira, guru, siswa, orang kampung yang kampungan. Yang membunuh, yang dibunuh, yang bunuh diri, semuanya brengsek.

“Tidak boleh dibunuh, sekalipun orang jahat. Tidak boleh diperkosa, sekalipun itu kuda. Ulangi!” Pesan terakhir Am Siki.

Meski buku ini dilabeli 19+ tetap saja saya ingin anak SMA dengan berani membaca ini.

Selamat membaca!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkenalan dengan Paya Nie

Aravind Agida dalam Harimau Putih

Seorang Perempuan yang Berlutut kepada Tuhan