Membaca Sekolah Biasa Saja

 

SEKOLAH BIASA SAJA

Sekolah Biasa Saja

 

Buku istimewa ini disusun oleh Toto Rahardjo berisi kontribusi tulisan dari Murid, Orang Tua Murid, Fasilitator, beberapa artikel dan tulisan yang terkait. Dicetak pertama kali pada Agustus 2014 oleh Penerbit Progress dan selanjutnya cetakan kedua, ketiga pada 2018 dan 2019 oleh INSISTPress. Sampulnya berisi gambar seorang anak di tengah sawah yang sedang meneropong, sangat mempresentasikan Sanggar Anak Alam (SALAM).

Diawali dengan wawancara Toto Rahardjo sebagai salah satu pendiri SALAM, memberi kita sedikit banyak gambaran tentang asal mula SALAM sebagai sebuah wadah untuk belajar sekaligus apa yang diinginkan dari semua itu, visi misi mereka.

SALAM sendiri didirikan karena ketidakpuasan dengan dunia pendidikan yang ada, proses belajar yang itu-itu saja menurutnya tidak lagi relevan dengan perkembangan yang ada. Karena itu SALAM melaksanakan pembelajarannya berbasis riset dengan Murid, Orang Tua Murid, Fasilitator (tidak menyebutnya Guru) serta masyarakat sekitar untuk sama-sama belajar. Kenapa riset? “mendengar, saya lupa; melihat, saya ingat; melakukan, saya paham; menemukan sendiri, saya kuasai” itulah adagium yang mereka yakini.

Jargon Merdeka Belajar yang digunakan di dunia pendidikan saat ini tampil bebas di SALAM. Di sini tidak ada guru ataupun mata pelajaran, semua orang belajar dan semuanya dipelajari. Murid, Orang Tua Murid, dan Fasilitator membuat rencana belajar bersama sehingga tidak ada pelajaran yang dipaksakan dan mereka dapat belajar dengan bahagia.

Di bagian akhir buku ini digambarkan bagaimana proses pembelajaran yang terjadi di sini dengan cukup detail. Dengan membaca itu sudah bisa kita bayangkan bagaimana asyiknya menjadi warga SALAM.

Bisa dibilang Sekolah Biasa Saja adalah pacemaker untuk aktivis pendidikan, terlebih guru yang ada di Indonesia. Tentu saja tidak semua yang ada di SALAM adalah kebenaran hanya saja setidaknya ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari proses yang mereka bentuk.

 “Apakah menurut kalian ada yang salah dengan dunia pendidikan kita saat ini?” Entah kalian menjawab ya atau tidak yang jelasnya buku ini layak dibaca.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkenalan dengan Paya Nie

Aravind Agida dalam Harimau Putih

Seorang Perempuan yang Berlutut kepada Tuhan