Siapa yang Datang ke Pemakamanku Saat Aku Mati Nanti?

 

Siapa yang Datang ke Pemakamanku Saat Aku Mati Nanti?


 

Kim Sanghyun, pemilik Gongmyeong Cafe dan Feelm (sebuah penerbit independen) sekaligus penulis buku ini. Judul aslinya naega jugeunmyeon janglyesige nuga wajulkka? dibantu oleh Dewi Ayu Ambar Rani kita bisa membaca buku ini dalam Bahasa Indonesia. Diterbitkan pertama kali oleh Penerbit Haru pada Oktober 2020.

Dengan judul yang gelap memberi magnet tersendiri untuk memiliki buku ini. Cukup lama berada di rak bukuku dan tak terbaca hingga suatu hari ketika saya merasa ingin menggali kubur sendiri, seorang teman menyarankan untuk membaca buku ini. Meski akhirnya baru terbaca kemarin.

Berhubung saya membeli buku ini ketika masih PO makanya mendapat bonus notebook, sepertinya cocok untuk mencatat nama-nama orang yang kemungkinan datang ke pemakamanku nantinya meski hingga saat ini belum ada satu nama pun yang tercatat. Saya tidak percaya diri.

Terlepas dari judulnya, buku ini tidak berisi cara mencatat orang-orang yang akan datang ke pemakaman kita apalagi membuat mereka berjanji untuk datang. Melainkan berisi 4 bab dan 45 judul tulisan pendek, beberapa malah sangat pendek. Dan satu tulisan yang berjudul Kenangan dan Kematian merupakan wajah dari buku ini.

Bisa dibaca sekali duduk tapi sebaiknya jangan. Untuk lebih manjur kuberi resep: baca pelan dan berhenti setiap melihat kertas berubah warna menjadi hitam, kenanglah sesuatu yang mengingatkanmu dari tulisan pendek tersebut, sesekali minumlah air putih dan lanjutkan lagi.

Membaca buku ini membuatku merasa (belum tentu benar) bahwa Kim Sanghyun adalah orang yang hangat. Berkali-kali dalam tulisannya dia menunjukkan dirinya begitu mudah tersentuh, menangis, dan menjadi perasa. Saya paling suka tulisan yang berjudul Sepatah Kata, Sanghyun mengatakan bahwa beberapa orang bertanya tentang permasalahan yang dihadapinya dan kemudian berterima kasih atas jawaban yang diberikan meski sebenarnya mereka tidak benar-benar melakukan hal tersebut. “Mereka sebenarnya telah memiliki jawabannya” mereka hanya butuh teman bicara yang dapat mendengarkan permasalahan yang dimilikinya.

Dengan membaca ini setidaknya kalian bisa traveling rasa dan sadar bahwa bukan hanya kalian yang seperti itu. Apalagi Sanghyun yang bercerita tentang kehidupan pribadinya sering merasa ditinggalkan, meninggalkan, disayangi, menyanyangi, percaya diri, menganggap dirinya tidak berguna. Beberapa isinya mengingatkanku dengan penulis Korea lainnya, seperti Kim Suhyun dan Baek Se Hee.

Kim Sanghyun adalah pengikut berat Aristoteles, menjadikan kebahagiaan sebagai tujuan hidup. Sepertinya hal itu yang membuat halaman terkahir buku ini berjudul ‘Kebahagiaan’.

Semoga kita bahagia.

Selamat membaca.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkenalan dengan Paya Nie

Aravind Agida dalam Harimau Putih

Seorang Perempuan yang Berlutut kepada Tuhan