[Review Film] Voice Of Silence (2020)

VOICE OF SILENCE

[Review Film] Voice of Silence 2020

 

Kali ini saya akan memperkenalkan film yang menggenapkan 35 penghargaan yang diperoleh oleh Yoo Ah-in. Saya yakin sih ini bukan yang terkahir, Dia adalah aktor yang baik dan benar. Dalam proyek ini banyak yang memberitakan bahwa Dia bahkan menambah berat badan sebanyak dua kali, karena pada kali pertama Hong Eui-jeong sebagai sutradara berpikir bahwa untuk berperan sebagai Tae-in, Yoo Ah-in tidak perlu menambah bobot. Karena itu Dia (kembali) menurunkan berat badan, kemudian dengan beberapa pertimbangan ulang sutradara memintanya kembali menaikan berat badann.

Dirilis pada 15 Oktober 2020 di Korea Selatan dan berhasil menjadi Nominasi Penghargaan Film Blue Dragon untuk Film Terbaik, Blue Dragon Film Award for Best Screenplay, serta berhasil memenangkan Penghargaan Film Blue Dragon untuk Aktor Terbaik dan Blue Dragon Film Award for Best New Director. Sukses terus!

Film drama kriminal indie ini berkisah tentang Tae-in dan teman kerjanya yang diperankan oleh Yoo Jaemyung. Mereka dibayar untuk menyekap orang dan menguburkannya setelah meninggal, hanya berurusan dengan orang-orang yang akan meninggal. Sembari jualan telur ayam. Hidup mereka adem anyem saja sebelum diminta untuk menyandera anak berusia 11 tahun selama sehari bernama Cho-hee. Konsepnya hampir mirip dengan Pawn, film Korea yang juga rilis 2020.

Dengan judul Voice of Silence, tokoh  Tae-in tidak bisa berbicara, hanya mendengar dan mengerti. Adegan yang paling menjelaskan itu adalah ketika Cho-hee terus mendorong Tae-in yang ingin menyelemat-mengeluarkannya dari mobil karena kecewa telah dititipkan pada orang yang jelas-jelas bermaksud jahat. Kemudian berbalik ketika Cho-hee melarikan diri, Tae-in terus menarik tangannya yang diraih oleh anak kecil itu dan menghindar sebagai bentuk kekecewaan. Mereka bak pasangan kekasih yang marahan tapi tanpa suara, meski sebenarnya Cho-hee bisa berbicara dan Tae-in bisa mendengar.

Perpisahan mereka tidak kalah drama, cara Cho-hee melepaskan tangan Tae-in, dan bagaimana Tae-in berlari di adegan terakhir memberi makna voice of silence.

Film ini berlatar di sebuah desa dengan pemandangan yang begitu indah berbanding terbalik dengan rumahnya yang berantakan, baju-baju tergeletak di lantai. Hal ini yang bikin saya tidak paham kenapa Tae-in tidak mengganti bajunya yang berlumuran darah ketika mengantar Cho-hee ke sekolahnya.

Yang jelasnya sih film ini bagus untuk dinonton apalagi hari minggu, senin, selasa, rabu, kamis, jumat, sabtu, dan minggu (lagi).

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkenalan dengan Paya Nie

Aravind Agida dalam Harimau Putih

Seorang Perempuan yang Berlutut kepada Tuhan