[Review Buku] Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu
Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu
Novel peraih Kusala Sastra
Khatulistiwa 2017 ini ditulis oleh Mahfud Ikhwan, sosok yang juga menulis
naskah pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2014 (Kambing dan Hujan). Buku ini diterbitkan
oleh Marjin Kiri dicetak pertama kali pada Juni 2017 dan kini tampil dengan
cover baru yang lebih gelap, dark mode.
Saya dikenalkan novel ini oleh
seorang teman “versi cowoknya Cantik Itu
Luka” kukira dalam hal anu, ternyata masalah dalam wajahnya yang buruk
rupa. Sayang sekali saya tidak bisa membayangkan Mat Dawuk seperti itu, dia
selalu tampan dalam pikiranku. (Mungkin karena saya membaca ini diselingi
menonton A Better Tomorrow-nya John
Woo). Terlebih ketika dia berlari kencang membawa istrinya dengan lubang robek
di perutnya ke Puskesmas Galeng Gade, diringi suara ngingngng.
Ceritanya dibuka dengan pagi di warung kopi dengan seorang Warto Kemplung dan ceritanya yang sangat mirip
bualan. Atau memang bualan. Caranya membesar-besarkan cerita tentang Dawuk
membuat cerita ini benar menjadi besar. Saya suka saya suka!
Kisah kelabu dari Rumbuk Randu
membawa sejarah, jabatan, kematian, harga diri, dendam, serta cinta Dawuk si
buruk rupa dan Inayatun si cantik Indomelek beradu. Kisah kelabu yang
betul-betul kelabu sehingga membuat setiap orang takjub bagaimana bisa satu
orang mendapat kekelabuan sebesar dan sebanyak itu.
(Kalau kalian cukup sabar menyimak, nanti kalian
akan dapat penjelasan soal itu) begitulah Mahfud Ikhwan berkali-kali membuat
kita membuka halaman demi halaman. Jika di warung itu ada Warto, di sini, di
sisi pembaca ada Mahfud Ikhwan.
Omong-omong tentang lagu India yang
dihadirkan dalam novel ini, saya sama sekali tidak tahu!
“Heh, kalian sama sekali tidak tahu lagu ini? Yang benar? Allahu akbar!
Terus apa yang kalian dengar? Aduh yung… pasti dangdut rusak-rusakan itu ya?
Ya, sudahlah… Apalah dayaku.”
Saya semakin senang pada kalimat ini,
karenanya kucoba dengarkan lagu Jab Hum Jawan Honge meski akhirnya tidak
terjadi apa-apa.
Bagaimana pun juga karena telah
membaca Dawuk, sampai jumpa lagi di Anwar Tohari.

Komentar