Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas

 

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas


Dengan latar belakangnya sebagai alumni Fakultas Filsafat UGM, saya mengenal Eka Kurniawan sebagai penulis yang mampu membuat tulisan vulgar berbau filosofis dan sebaliknya. Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas misalnya, buku yang pertama kali diterbitkan pada tahun 2014 oleh Gramedia Pustaka Utama ini kembali menunjukkan gaya menulis Eka yang filosofis berbau vulgar.

Kisahnya berawal dari dua remaja yang menjadikan pemerkosaan perempuan sinting sebagai sebuah kesenangan, berakhir dengan Ajo Kawir mendapati burungnya tertidur lelap dan Si Tokek memilih mengurung burungnya selama burung Ajo Kawir tertidur. Kesialan kedua burung itu membuat kedua pemiliknya harus hidup dengan penuh kesengsaraan, menolak cinta yang datang karena dirinya tidak sempurna.

“Aku ingin menghajar orang” begitulah cara mereka mencari kesenangan untuk hidupnya yang serasa telah berkahir. Daripada harus merindukan Iteung, Ajo Kawir lebih memilih menantang Si Macan untuk bertarung menuju neraka. Lagian rindu kepada kekasihnya adalah penyakit dalam yang lebih mampu membunuhnya.

Namun dalam perjalanannya, Ajo Kawir dan Iteung kembali dipertemukan. Mereka akhirnya menikah meski Iteung tahu bahwa kekasihnya itu tidaklah sempurna, Iteung merasa yakin pada cintanya bahwa yang dia butuhkan hanyalah Ajo Kawir dan bukan burungnya. Keyakinan itu dipatahkan oleh kehamilannya, ikut mematahkan hati suaminya. Mereka menghukum diri sendiri dengan dendam dan rindu, kisahnya terus belanjut.

243 halaman buku ini kuselesaikan kurang dari sehari semalam padahal bukan hari libur, membuat rekor tersendiri. Pertarungan-pertarungan, termasuk aksi kejar-kejaran truk antara Mono Ompong dan Si Kumbang membuat novel ini semakin seru. Kucoba untuk membacanya dengan lantang sekali-kali agar lebih puas. Dan itu berhasil. Saya merasa seperti komentator MotoGP.

Tentu saja yang paling asyik adalah bagaimana Ajo Kawir belajar pada burung yang tidur lelap, menjadikannya teman bicara dan membuat hidupnya lebih tenang. Keputusan-keputusannya bukan lagi keputusasaan.

Oh iya, novel ini diadaptasi menjadi sebuah film dan mampu meraih penghargaan tertinggi di Locarno International Film Festival (ini sebenarnya alasan terbesarku membaca Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas). Banyak selamat untuk Edwin sebagai sutradara dan terima kasih banyak kepada Prince Claus Laureate 2018, Eka Kurniawan.

Selamat membaca buku dan menonton film.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkenalan dengan Paya Nie

Aravind Agida dalam Harimau Putih

Seorang Perempuan yang Berlutut kepada Tuhan