Penghancuran Buku Dari Masa Ke Masa (Fernando Bàez)
Penghancuran Buku dari Masa ke Masa
Fernando Bàez
Marjin Kiri telah berusaha keras
menerbitkan buku ini dengan memberikan tampilan cover buku hasil bakaran. Cantik
sih tapi malah membuat saya kewalahan membawanya ke mana-mana karena perlu
perlindungan khusus. Salah sedikit bisa ikut aksi penghancuran buku.
Terbit pertama kali di Spanyol
pada 2004 dengan judul Historia universal
de la destruction de libros. De las tablillas sumerias a la Guerra de Irak. Buku
yang kupengang ini sendiri merupakan edisi ketiga keluaran tahun 2021, diterjemahkan
oleh Lita Soejardinita dengan suntingan dan bab-bab
tambahan diterjemahkan oleh Rony Agustinus. Terima kasih banyak.
Fernando Bàez (1970) mendedikasikan buku ini “Untuk Luis Alberto Bàez Bello dan untuk Carmen Hernàndez, dalam kenangan orang tua saya.”
Dimulai dari pencarian buku Miguel de Unamuno di sebuah toko buku kuno
di Madrid. Tanpa sengaja dia malah menemukan kumpulan puisi Federico García
Lorca dalam keadaan mengenaskan, dimulailah penelitian ini.
Buku ini sendiri terdiri dari
tiga bagian. Bagian pertama membahas tentang Dunia Kuno, bagian kedua berjudul
Dari Byzantium Hingga Abad ke-19, dan Dari Abad ke-20 Hingga Sekarang pada
bagian ketiga. Bab-bab disusun sistematis dan menarik, beberapa terlalu pendek.
Tetap saja seperti yang dikatakan Noam Chomsky “Mengesankan… buku terbaik yang
pernah ditulis mengenai tema ini.”
Penghancuran buku terjadi di
mana-mana dan terjadi dengan berbagai cara, baik yang disengaja maupun tidak.
Dan itu berarti penghancuran yang bukan hanya ‘buku’ tetapi juga manusia, sejarah, peradaban, dan lebih banyak
lagi yang mungkin belum terpikirkan.
“Di manapun mereka membakar buku,
pada akhirnya mereka akan membakar manusia.” Heinrich Heine dalam Almansor (1821). Sungguh ramalan yang
dijadikan kenyataan oleh rezim Hitler.
Membaca buku ini sambil
memikirkan negara sendiri, saya beberapa kali ditegur untuk tidak menjual buku
yang berbau kiri supaya tidak ditangkap polisi (temui kami di @e_j_a_buku). Dan
akhirnya di halaman 246 kutemukan bahasan mengenai pembakaran 30.000 buku ajar SMA
di hadapan para siswa pada 2007 di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sulawesi
Selatan. Pembakaran buku-buku tersebut atas alasan yang lebih politis bahwa tak
sejalan dengan sejarah versi pemerintah tentang usaha kudeta tahun 1965 di
Indonesia.
Atas saran seorang pembaca, Fernando Bàez menambahkan Pascawacana: Penghancuran Buku dalam Cerita Fiksi dan itu sangat enak dibaca pada bagian akhir.
Dari 410 halaman buku ini, 71 halaman
memuat catatan, daftar pustaka, terima kasih, dan indeks. Sungguh penutup yang
panjang dan penting.
Buku ini bagus untuk kita semua,
maka bacalah.

Komentar