[Review Buku] Anak Gembala yang Tertidur Panjang di Akhir Zaman 2019
"Saya percaya bahwasahnya Pandawa Lima bukanlah cerminan dari tokoh-tokoh tertentu. Sebaliknya, mereka adalah representasi dari ajaran yang dibawa oleh Nabi Besar Muhammad Saw.. Pandawa Lima ialah perlambangan dari Lima Rukun Islam. Yudistira adalah syahadat, Bima mewakili salat, Arjuna cerminan keelokan puasa, Nakula merupakan zakat, dan Sandewa jelas sekali merupakan ibadah haji." Begitulah Pak Wo yang memiliki ketertarikan terhadap epos Mahabharata mengaitkannya terhadap ajaran Islam.
Saya kehabisan bahan bacaan dan tidak tahu mau baca apa lagi. Kemudian seperti sebuah petunjuk, sampul buku ini muncul dan seketika itu pula saya merasa harus membacanya. Tanpa alasan lain.
Inilah alasan kenapa saya menjadi sangat terkejut setelah sampai pada halaman yang menunjukkan potret Rara Wilis (1988). Ternyata tokoh dalam novel ini nyata, sungguh plot twist bagiku yang tidak pernah mendapat bocoran apapun mengenai Anak Gembala yang Tertidur Panjang di Akhir Zaman. (Padahal di sampul belakang dijelaskan bahwa novel ini diangkat dari kisah nyata) Saya memang kaum yang suka membaca dari depan.
Tulisan A. Mustafa ini berhasil menjadi Pemenang II Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2018. Dan itu sebuah kepantasan. Setahun kemudian Buku ini dicetak oleh Shira Media untuk kali pertama.
Novel ini menghadirkan tiga cerita yang kesemuanya adalah orang yang sama, Suko Djatmoko Purwo Carito. Makhluk Tuhan yang digambarkan hina dina di mata dunia. Pertama sebaga Rara Wilis, kemudian sebagai Babi Lumpur, dan terakhir adalah Pak Wo yang seorang Ahmadi.
Ahmadiyah diperkenalkan dengan cara yang sangat gagah. Menjadikan Rara Wilis, yang seorang waria sekaligus pelacur sebagai tokoh utama disandingkan dengan Haris bejat yang mampu menyakiti melalui fisik dan psikis. Pasangan tidak waras ini dijadikan model Ahmadi, menggambarkan bagaimana Ahmadiyah sangat percaya diri menjadi jalan menuju kebenaran untuk siapapun.
Meski telah dituding dan ditunjuk-tunjuk sesat, kafir, dan ahli neraka oleh masyarakat luas, khususnya yang pun beragama Islam. Penulis tidak segan memperlihatkan bagaimana seorang Haris yang tidak cukup untuk disebut manusia sebagai pengantar Rara Wilis menuju jalan yang benar itu. Sungguh kemuliaan bisa datang dari mana saja.
Tentu saja saya tidak memiliki kapasitas untuk berkomentar tentang Ahmadiyah. Buku ini pun bukan untuk mengajak kalian menjadi Ahmadi. Ini adalah kisah nyata yang ditulis ulang dalam bentuk fiksi sehingga lebih gampang untuk dicerna, membuat pembaca tidak merasa sedang diceramahi. Dan itu menarik.
Dari 354 halaman, penulis mampu membawa kita menjelajahi hidup Anak Gembala yang Tertidur Panjang di Akhir Zaman. Melewati dinding waktu, menempuh hakikat penciptaan manusia, serta mengaduk kita dalam dunia nyata dan mimpi.
Semoga kalian membaca buku ini juga.

Komentar