[Review Film] The Great Indian Kitchen 2021
The
Great Indian Kitchen (2021)
Sesuai
judulnya The Great Indian Kitchen, film ini menyajikan kehidupan dapur orang
India. Lebih dari itu Jeo Baby sebagai sutradara memberikan kita gambaran
kehidupan tentang perempuan yang telah menikah di India. Kendati demikian
masalah seperti ini tidak hanya terjadi di India, 'urusan dapur adalah urusan perempuan' diyakini di banyak negara.
Aku takut
nanti tugasku bisa
hanya mampu di
dapur
di dapur dan
di sumur
di sumur dan
di kasur
Melihat
Nimisha Sajayan yang berperan sebagai istri membuat lagu Abah Emak ini terputar
otomatis di kepalaku. Saya meledeknya diam-diam, saya hanya bisa tertawa. Perempuan
yang telah menjadi istri di Indonesia pun banyak mengalami hal seperti ini,
bekerja seolah pembantu. Terlebih jika tinggal di rumah mertua, banyak perintah
dan larangan yang perlu dipatuhi.
Yang
membuat film ini semakin menarik adalah setiap kali pergantian adegan antara
suami dan istri. Istri-istri akan sangat sibuk di dapur, menyalakan dua mata
api di kompor dan satu lagi pada tungku api. Suara minyak panas bertemu bahan
makanan, air mendidih, parutan kelapa, bergantian suara-suara sibuk khas dapur lainnya terdengar
sangat jelas. Kemudian tiba-tiba hening karena suami-suami sedang bersantai. Saya
kembali tertawa.
Ingin sekali kubuat sang istri istirahat barang sejenak. Bagaimana tidak? Dia yang bekerja saya yang mau meledak, capek sekali melihatnya.
Dan akhirnya keinginanku menjadi kenyataan. Di rumah itu
perempuan yang sedang haid dianggap kotor sehingga tidak boleh menyentuh dapur
yang suci, suami yang Sami, benda-benda lain yang lebih tinggi derajatnya, bahkan
tidak berhak terlihat. Di sini saya tidak tertawa.
Meski
akhirnya tidak bekerja, mengingat alasannya yang seperti itu malah tidak bisa
dianggap istirahat melainkan hukuman karena telah menjadi perempuan, perempuan
yang sehat, perempuan yang haid. Bayangkan saja suaminya yang diperankan Suraj
Venjaramoodu harus menyucikan diri setelah dibantu bangun perempuan kotor itu.
Makanya
bahagia sekali rasanya melihat sang istri meledak setelah bertahan cukup lama, adegan
di mana dia keluar dari rumah itu, berjalan tanpa melihat ke belakang, melewati
perempuan-perempuan lain yang sedang bertugas sebagaimana dirinya beberapa menit
yang lalu, sungguh menawan.
Setelah meninggalkan rumah yang lebih pantas disebut penjara itu, sang istri menjadi orang yang berbeda dan sangat berbeda. Bukan karena dia berubah melainkan kembali pada dirinya yang dulu, yang menari indah di adegan pembuka.
Senang juga karena dengan penuh percaya diri dia menyetir mobil merahnya dan melatih anak-anak menari. Wajahnya penuh kebahagiaan. Happy Ending!
Film
ini begitu perhatian dengan perempuan meski disutradarai laki-laki. Menurutku sutradara
memberi porsi yang tepat untuk menggambarkan seorang istri, ramah tanpa menjilat,
rajin sampai batas wajar, patuh dan mengerti batas dianggap rendah. Menyadarkan
penonton bahwa pemberontakan terjadi bukan karena istri yang terlalu ingin
dihargai melainkan agar dapat saling menghargai.
Semoga
kalian ikut menonton.
Komentar