[Review Buku] Twenty Four Eyes - Sakae Tsuboi

 


Twenty Four Eyes

Buku ini terasa dekat denganku seketika setelah membaca sinopsisnya, tokoh utamanya adalah seorang guru dan berlatar di sebuah desa nelayan, sebuah pulau. Tanpa banyak pertimbangan “saya harus membacanya” kupikir. Apalagi covernya kawai sekali. Latar putih dihiasi gambar anak-anak manis, ibu guru, bunga, dan sebuah pantai.

Buku ini diterjemahkan dari bahasa Jepang oleh Akira Miura, akhirnya saya bertemu dengan penerjemah baru selain Ribeka Ota. Salam kenal yah. Terjemahannya bagus!

Sakae Tsuboi berhasil menerbitkan buku ini tahun 1952 dan seketika berlabel best seller. Ada filmnya juga loh, disutradarai oleh Keisuke Kinoshita. Yang kupegang sekarang ini cetakan kelima terbitan Gramedia Pustaka Utama pada Agustus 2021.

Nijushi no Hitomi, atau Dua Belas Pasang Mata adalah anak-anak manis yang menjadi siswa Mrs. Oishi, mereka tetap manis hingga dewasa. Perasaan dicintai yang diberikan anak-anak ini tentu saja didambakan oleh setiap guru, meski tidak semua guru bisa seperti Mrs. Oishi. Ah, rasanya ingin menjadi siswa lagi.

(Miss Oishi adalah anak tunggal sehingga ketika menikah dengan seorang pelaut, dia tetap dipanggil Oishi, Mrs. Oishi.)

Novel ini manis sekali meski berlatar peperangan, bahkan disebut novel anti peperangan. Sakae Tsuboi membuat Mrs. Oishi gembira atas kekalahan Jepang, bukan karena tidak cinta tanah air melainkan karena membenci peperangan. Guru satu ini merasa dan berpikir bahwa setiap manusia berhak untuk hidup, siapa pun itu, bahkan musuh sekali pun.

Beberapa kali saya teringat Grave of the Fireflies, setiap kabar kematian orang-orang desa sampai ke telinga Mrs. Oishi, terlebih ketika guru itu akhirnya menjanda. Peperangan membawa pergi banyak laki-laki termasuk suaminya.

Penulis mencoba meneriakkan anti peperangan dengan lembut dan itu baik sekali. Menghadirkan anak-anak yang belum cukup umur untuk mengerti apa yang sedang terjadi. Di tengah himpitan ekonomi akibat peperangan, Matsue hanya tahu bahwa dia menginginkan kotak makan siang yang tutupnya bergambar bunga teratai dan untuk itu dia harus bersabar.

Beda lagi dengan Daikichi, anak Mrs. Oishi yang lahir belakangan, dia telah duduk di kelas enam pada tahun 1946, lahir dengan peperangan yang nyata di depannya dan itu membuatnya tumbuh dengan jiwa patriot, rela mati untuk negara tanpa sadar bahwa ibunya tidak merelakannya kehilangan nyawa, seperti para pejuang lain yang telah berbaris rapi di bawah batu nisan.

Perdamaian dunia, itulah cita-cita Mrs. Oishi.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkenalan dengan Paya Nie

Aravind Agida dalam Harimau Putih

Seorang Perempuan yang Berlutut kepada Tuhan