Sesuatu yang Tidak Ingin Kusebutkan Namanya
Sesuatu yang Tidak Ingin Kusebutkan Namanya
Saya baru
saja selesai menonton tick, tick… BOOM!
Dan tiba-tiba kepalaku sakit. Sakit sekali. Dan juga sepertinya saya butuh meminum air
untuk menyiram tenggorokanku yang terus saja menganga melihat penampilan
Jonathan Larson. Film ini keren, musik-musik yang dihadirkan begitu indah diikuti
plot yang tidak membosankan. Film kedua yang kunonton tahun ini, sebelumnya
saya menonton The Door into Summer. Ada
rasa kecewa memulai tahun ini menonton Soichiro Takakura melakukan perjalanan
waktu. Rasanya banyak yang tidak pas saja.
Malam itu
pukul sebelas nol nol. Entah kenapa saya bisa memastikan waktunya ketika saya
sendiri pun tidak yakin mengetahuinya dari mana. Bukan dari handphone. Kamarku tanpa
jam dinding. Yang jelas kepalaku sakit sekali. Badanku kubangunkan perlahan
menuju botol airku di pojok kanan lantai kamar, tidak ada meja di kamar kecil
ini. Seteguk tidak cukup, tenggorokanku meminta lebih, nafasku terburu didesak
air putih yang berhamburan cepat. Botol yang awalnya berisi penuh air kini
menyimpan udara.
Nafasku
masih tersenggal-senggal, kerah piyamaku basah menerima tetesan air yang tidak sempat
masuk. Saya mencoba duduk di lantai beberapa menit sambil
menutup mata berharap ketika kubuka lagi sakit di kepalaku bisa hilang. Hanya saja
harapan itu omong kosong, lagian sejak kapan harapan-harapan orang sepertiku dikabulkan
dengan cepat. Yang kuingat dari harapan hanyalah kekecewaan dan kembali
berharap.
Tubuhku menerima
sinyal kuat, getaran yang memintaku ke WC untuk membuang air yang menumpuk di
kandung kemihku. Dengan berat hati saya melangkah ke sana. Karena satu hal saya
begitu membenci WC. Ada sesuatu yang menakutkan di sana. Mungkin kamu tidak
akan percaya jika kuceritakan, menganggapnya tidak masuk akal tetapi begitulah
kenyataan, tidak perlu masuk akal untuk menjadi kenyataan.
Kaki
kiriku melangkah perlahan, mataku tajam melihat ke segala sisi dalam ruangan
sempit itu. Jonathan Larson menciptakan musik gaduh dalam aliran darahku, keras
dan tajam. Ketika berada di situasi seperti ini tubuhku secara otomatis
mentransfer kekuatan empat inderaku lainnya berkumpul pada indera penglihatan. Mataku
menjadi lebih kuat bak dipasangi lensa sudut ultra lebar sekaligus makro. Butiran
debu yang tidak dapat kulihat di luar WC dapat kulihat dengan jelas di sini.
Saya tidak berbohong.
Pikiranku
mengatakan kalau sesuatu itu yang tidak ingin kusebutkan namanya bersembunyi di
suatu tempat. Menatapku dengan sinis, penuh ejekan. Sikapnya angkuh layak
pangeran pemberani yang sedang berburu rusa, dia mengintip dengan perasaan puas.
Yang kuharapkan hanyalah sesuatu yang tidak ingin kusebutkan namanya itu tetap
bersembunyi. Tidak ke mana-mana, apalagi menampakkan dirinya padaku.
Setelah
mengecek setiap sudut, saya mulai bergerak dan melakukan apa yang mendesak. Waktu
seolah mengejarku, diperintahkan segera selesai, tubuhku meresponnya dengan
patuh. Saya tutup dengan membersihkan diri. Keluar dengan kaki kanan. Serasa
keluar dari penderitaan yang amat besar. Saya mencintai dunia luar.
Saya
paling patuh dengan sunnah yang satu ini, sepanjang hidupku yang kacau rasanya
tidak pernah kubiarkan kakiku melangkah dengan kacau, menambah kekacauan yang
sudah terlalu banyak. Kiri untuk masuk, kanan untuk keluar. Ada banyak harapan
di sana. Orang Mandar biasanya menyebutnya dengan Ussul.
Ketakutanku
berakhir. Kepalaku semakin sakit. Saya mencoba tidur.
Malam begitu panjang bagiku, setidaknya perlu sekali dua kali untuk bangun dan menyadari diriku masih hidup. Januari menyimpan musim dingin dengan tekun, saya menggigil meski telah menggunakan selimut. Kuambil botolku yang ternyata sudah kosong, rasanya haus sekali. Tapi keinginan untuk kencing lebih besar.
Hmm, rasanya baru saja keluar dari tempat itu. Sekarang harus ke sana lagi. WC adalah tempat yang paling tidak kita masuki lima kali sehari, dan kenyataan bahwa saya tidak menyukainya membuatku semakin tersiksa. Sungguh siksaan yang abadi. Tapi biarkan saja, saya harus pergi lagi. Dengan berat hati lagi.
Tepat ketika kubuka pintu WC. Tepat di
depan mataku sesuatu yang tidak ingin kusebutkan namanya menampakkan dirinya. Berjarak
hanya sejengkal. Saya belum siap dan sama sekali tidak akan pernah siap. Kakiku
jadi tidak bisa kuseimbangkan, telingaku berdenging, kehilangan kata-kata. Saya
tiba-tiba lumpuh, seluruh badanku diam kecuali mata. Indera penglihatanku menampung
kekuatan indera lain, melihat sesuatu yang tidak ingin kusebutkan namanya itu
membesar, membesar, membesar, membesar, membesar, membesar, jantungku jatuh.
Dengan kekuatan yang entah dari mana saya keluar dari sana, kiri atau kanan
saya tidak tahu.
Semuanya
gelap. Saya tidak bisa melihat diriku sendiri, mungkin saya tidak lagi di dunia
ini. Tubuhku tidak lain hanyalah udara yang mengumpul, tidak ada yang bisa
kurasakan. Sakit kepalaku hilang entah ke mana, lagian apa itu rasa? Tidak ada!
“Huh”
nafas pendek yang keras itu tiba-tiba keluar dari mulutku. Mataku membelalak.
Ternyata semua itu hanya mimpi, mimpi yang pernah terjadi. Kuingat setelah
kejadian itu saya demam berhari-hari. Bukan karena melihat sesuatu yang tidak
ingin kusebutkan namanya, lebih tepatnya saya melihatnya karena akan demam. Sungguh
mimpi buruk yang sebaiknya tidak terjadi lagi.
Kuputuskan
untuk tidak masuk ke sana lagi malam ini meski berarti kandung kemihku harus
bekerja keras dan tenggorokanku tetap kering, dibuat kering oleh hujan dan kenagan
buruk. Malam masih panjang, mataku terlalu sering terbuka lebar sehingga lupa
cara menutup. Untuk mengatasi kebosanan saya membuka Netflix di handphone, menonton
The Heart of the Sea. Saya selalu
gagal tidak mengingat Life of Pi
setiap menonton film tentang lautan, terlebih kali ini pun bercerita perjuangan
bertahan hidup terapung berbulan-bulan di lautan lepas. Film ini menegangkan,
api dari Moby Dick yang terinspirasi dari kisah nyata.
Kencingku
sepertinya berubah haluan, mengalir di pembuluh darah dan tersesat di sana.
Mungkin saja ini hal baik, bisa jadi juga hal buruk tapi peduli setan dengan
semua itu. Yang jelas saya tidak perlu bergerak dari tempat tidur ini. Mataku
berkali-kali berair setelah menguap, tertidur tidak lagi butuh waktu lama. Semoga
besok masih bisa bangun.
Saya
menulis ini setelah membaca The Guest and
Other Stories dan menjadi melankonis karena sedang membaca Ambivert. Angin sekecil apapun sepertinya bisa membawaku melayang.
Komentar