Wibu Gadungan Rerun Naruto
Sudah lama sekali tidak menulis di sini. Canggung banget sumpah.
Hari ini saya melihat postingan seseorang di twitter berisi screenshoot percakapan antara sender dengan temannya yang menjanjikan liburan ke Bali jika si sender dapat menyelesaikan Naruto 220 episode dan Naruto Shippuden 500 episode. Dari postingan tersebut saya jadi ingat baru-baru ini telah menyelesaikan rerun Naruto selama setahun lebih, setahun lebih.
Sekali lagi, setahun lebih.
Bagaimana tidak, paling banter saya menonton 10 episode sehari, kadang cuma beberapa, bisa juga 1 episode sehari, bahkan beberapa kali tidak menyentuhnya selama lebih dari sebulan. Hanya saja kalau memang tidak melakukan apapun sih kuyakin bisa menyelesaikan tantangan teman sender.
Nah, sekarang saya menyiapkan alasan meluangkan waktu untuk 720 episode tersebut. Pertama, karena saya bosan. Kedua, karena ingin mengenang masa lalu yang sebenarnya tidak seindah itu. Ketiga, keempat, kelima, ada banyak alasan yang bisa kuutarakan tetapi ya tidak ada yang begitu penting dengan alasan. Kalau membajak kalimat Seno Gumira Ajidarma dalam Sepotong Senja Untuk Pacarku akan menjadi seperti ini "Untuk apa? Alasan tidak ada gunanya dan selalu sia-sia. Lagi pula siapakah yang masih sudi mendengarnya?"
.
Saya menikmati peperangannya namun sulit untuk beneran bercerita tentang semua itu, maafkan. Tulisan ini memang bukan untuk mengulik di sisi tersebut. Saya hanya akan bercerita tentang apa yang berbeda setelah menonton ulang Naruto.
.
Yang kuingat sebelum rerun Naruto adalah pertarungan Shikamaru Nara dengan Temari dalam Ujian Chunin dan tentu saja jurus seribu bayangan. Dulu saya menonton di televisi jadi belum akrab dengan kage bunshin no jutsu. Sekarang sudah banyak hal yang bisa kuingat tentang Naruto. Asyik juga ternyata bisa namatin Naruto.
Saya menyukai Shikamaru Nara sejak kecil dan tetap menyukainya hingga saat ini. Bedanya, kini saya bisa menyukai lebih banyak lagi meski tidak ada yang benar-benar menggantikannya. Hidan misalnya, saya senang dengan Hidan, dia melakukan penyembahan dengan membunuh demi Jashin-nya itu. Yang lebih menyenangkan bahwa manusia kekal ini terbunuh oleh Shikamaru. (Tidak mau bahas soal Azuma hiks)
Oiya, saya paling suka dengan gaya Sai, dia manis sekali. /mengetik ini sambil senyum-senyum/
.
Setelah menonton ulang saya baru tersadar bahwa Naruto ini anime bromance yang romantis sekali. Berbeda dengan yang kuyakini dulu bahwa anime ini hanya tentang pertarungan. Kalau tidak ada Hinata nih mending Naruto nikahnya sama Sasuke saja hehe. Cinta Hinata terlalu sendu untuk terbuang sia-sia sih, dia mencintai Naruto tanpa cemburu. Menyadarkanku Hinata begitu percaya diri dengan cintanya, tidak terpengaruh oleh orang lain dan bukan untuk orang lain. Dia mencintai Naruto untuk dirinya sendiri. Sungguh penerus klan Hyuga yang manis. Sudah sepantasnya mereka bersama, saya ikut merayakan pernikahannya. Eh, dengan begini Hinata sudah masuk klan Uzumaki yah.
Berbicara soal klan Hyuga, kematian Neji nii-san adalah salah satu scene yang bikin saya menangis sesegukan. Neji tidak sekadar melindungi Hinata dan menolong Naruto dari serangan Juubi, namun lebih kepada menemani Hinata menjaga seseorang yang dicintainya. Dia bisa saja melindungi Hinata dengan tidak membiarkannya melindungi Naruto, namun perasaannya sudah lebih dalam, Neji menghidupi perasaan adik sepupunya itu. Tentu saja ini pemikiranku sendiri, tanpa berpikir soal hubungan Neji dengan Naruto dan Aliansi Shinobi.
.
Duh, sudah siang saja. Sudah ya. Selamat sudah menulis lagi.

Komentar