Habis nonton An Autumn’s Tale (1987)

 An Autumn’s Tale (1987)



Dari Hong Kong menuju sisi gelap New York. Pecundang jalanan, tembok kotor penuh makian, sampah busuk di mana-mana, gang gelap penampung tikus kota, tempat tinggal murah berdampingan kereta, kebisingan dan kekacauan.

Hidup sebagai mahasiswa miskin di kota besar adalah kemewahan yang menuntun memilih roti lapis isi sebutir telur, sebab dengan dua butir bisa saja membuat Jennifer (Cherie Chung) kehilangan kemewahan tersebut. Ya, selain itu dia butuh bekerja sambilan untuk menambah uang jajan. Dimaksudkan bertemu dengan Figgy atau Samuel Pang (atau Chow Yun-fat muda yang terlalu ganteng) dengan mobil rongsokannya nan kotor nan busuk.

Tembok memanglah wajah sebuah bangunan. Figgy menyulap salah satu kamar jelek dari salah satu bangunan jelek itu menjadi cantik dan membiarkan kamarnya tetap buruk. Kamar dengan pemandangan jembatan New York untuk Jennifer dan satu kamar lagi dengan tumpukkan baju pengganti keset untuk dirnya sendiri, tidak ada niatan untuk dipercantik.

Film ini Kembali menyadarkan bahwa orang-orang Tionghoa memanglah kelompok manusia yang selalu mempunyai caranya sendiri menandai wilayah di wilayah orang lain. Berbaur dan mengasingkan diri pada ranah yang diinginkan. Kalau di Indonesia, mereka ini hampir-hampir seperti orang Sulawesi. Oh, betapa mereka sangat tak terpisahkan.

Diproduksi tahun 1987 jauh sebelum saya lahir, orang yang menontonnya dengan senang dan dengan senang hati mengajak kalian menontonnya juga (kalau belum).  Bercerita tentang dua orang Hong Kong yang mengadu nasib di negara lain, Jennifer yang "tiba-tiba" logis tentang hubungan setelah dicampakkan kekasihnya dan Figgy, laki-laki 10 tahun lebih tua yang baru merasakan cinta. Castnya mengagumkan, alurnya tenang dengan durasi 1 jam 38 menit, dan saya tidak pernah berpikir ini akan happy ending. Namun Mabel Cheung, sang sutradara perempuan terkemuka ini ternyata menipuku. Kecuali persoalan jam tangan, saya tertawa karena telah menduganya sedari awal, ketika kali pertama dua manusia kebingungan ini melihat tali jam tangan itu. Ya, kupikir hanya akan sampai di situ. Ternyata ada Sampan.

Sungguh tontonan yang layak. An Autumn’s Tale (1987), sekian dan terima kasih.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkenalan dengan Paya Nie

Aravind Agida dalam Harimau Putih

Seorang Perempuan yang Berlutut kepada Tuhan