Habis nonton Aparajito (1956)
Aparajito
(1956)
Satyajit Ray yang memulai debut penyutradaraannya dalam Pather Panchali (1955) berhasil mengambil hati penonton. Dengan keberhasilan besar tersebut, tanpa berencana dari awal, akhirnya bagian kedua dilahirkan. Sebagai bagian kedua dari Trilogi Apu, Aparajito pun hadir dengan memukau, dulu dan sekarang. Dengan durasi 113 menit, film berbahasa Bengali India ini berhasil memenangkan 11 penghargaan internasional. Sebuah kisah yang ditulis oleh Bibhutibhushan Bandopadhyay, untuk membacanya kalian bisa membeli bukunya dengan judul yang sama. Tersedia terjemahan berbahasa Indonesia.
Dengan hitam putih film ini bercerita mengenai Apu kecil (diperankan Pinaki Sengupta) menuju remaja (diperankan Smaran Ghosal) seorang keturunan Brahmana, terlahir sebagai anak seorang Pendeta miskin. Sang Ayah yang begitu bertanggung jawab untuk keluarganya jatuh sakit di ruangan yang lembab kemudian meninggal setelah meminta dan meminum air dari Sungai Gangga. Kejadian ini membuat Ibu dan Apu berpindah tempat tinggal lagi. Di sanalah Apu bersekolah. Menemukan dirinya berbakat, Kepala Sekolah memberikannya rekomendasi beasiswa. Muncul konflik antara Ibu dan Apu, Ibu menginginkan anaknya tetap di sisinya dan menjadi Pendeta sedangkan Apu ingin belajar sains dengan beasiswa tersebut. Apu menang, Ibu harus merelakan anaknya dengan menunggu kedatangan sang anak hingga menemukan ajal menjemputnya. Singkatnya demikian.
Yang menarik dari film ini adalah kita diperlihatkan bagaimana arti Sungai Gangga bagi orang India, sungai yang bahkan dalam hitam putih pun terlihat sangat kotor. Ya, memang itulah Sungai terkotor nomor satu di dunia. Hari di mana Sang Ayah memiliki firasat akan kematiannya yang sebentar lagi, dia menginginkan air Sungai Gangga dan meninggal seketika setelah menelan air berwarna keruh tersebut. Ajaibnya (bagi kita) tidak ada yang melarang, Ibu dengan segera membangunkan Apu untuk memenuhi permintaan suaminya, Apu berlari kencang mengambil air tersebut, Ayah meminumnya sebagai wujud keinginan terakhirnya meminum air suci.
Kita juga diperlihatkan bagaimana sebuah kereta api berubah arti, yang awalnya sebagai kebahagiaan bagi orang miskin, ditunjukkan dengan Apu kegirangan setiap melihat kereta api melaju cepat dari rumahnya. Setelah Apu melanjutkan studinya di sebuah kota yang berjarak 3 jam itu, kereta api tidak lagi menjadi sesuatu yang membuatnya girang. Terutama bagi Ibu, kereta api adalah harapan, penantian, dan kesedihan.
Ada keegoisan Ibu untuk terus bersama anaknya dan keegoisan Apu untuk meninggalkan Ibu demi pendidikannya, tidak pulang pada libur singkat karena akan mengganggu belajarnya. Meski akhirnya Ibu meninggal tanpa Apu di sampingnya, saya melihat Apu tidak menaruh penyesalan karena telah memilih melanjutkan studi. Pilihannya tepat. Dan dia tentu saja sangat terpukul atas kematian Ibunya.
Di akhir bagian kedua ini, Apu kembali
pergi untuk melanjutkan studinya membawa serta Ibu dalam bawaanya. Meski tidak dikhotbahkan, mungkin
saja setelah melihat kehidupan yang serba terbatas sebagai anak Pendeta menjadi
alasan kuat Apu mengambil langkah yang sama.
Oiya, ada framing yang terus dimunculkan. Sebuah kotak yang menempatkan tokoh berada di tengah-tengah layar, ditampilkan melalui lorong, pintu rumah, pintu kamar, gerbang sekolah, dan beberapa lainnya yang cukup indah. Kita juga bisa menikmati pencahayaan dari sebuah lentera yang hanya dimunculkan di rumah Apu.
Saya dapat menonton ini dari The Criterion Collection, yang di akhir disebutkan bahwa mereka berhasil menyelamatkan Aparajito dari sebuah kebakaran. Semoga saya bisa menonton bagian ketiga dan menuliskannya lagi.
Tulisan ini sebagian besar berasal dari perbincangan bersama Layar Kita di Gedung Konferensi Asia Afrika, Bandung.
Nah, itu dia. Sekian dan terima
kasih.

Komentar