Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia: Meluruskan kembali falsafah pendidikan kita

 

Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia: Meluruskan kembali falsafah pendidikan kita

Cover Memulihkan Sekolaah Memulihkan Manusia: Meluruskan kembali falsafah pendidikan kita


Buku yang saya pegang ini adalah edisi diperkaya. Tertulis untuk pendidik, orangtua, dan pengambil kebijakan (harusnya berlaku juga untuk umum). Ketua Yayasan Lazuardi, Haidar Bagir memulai buku terbitan Mizan ini dengan lima halaman mengenai mimpinya untuk pendidikan Indonesia. Halamannya yang abu basah membuatku sangat tidak nyaman, untung saja itu cukup singkat. Saya tidak pernah bisa mengerti orang-orang yang mencetak buku dengan background gelap atau terlalu terang, sungguh metode aneh untuk merusak mata dan mood.

Sebanyak 220 halaman, buku ini dibagi menjadi 3 bagian: I. Falsafah Pendidikan, II. Konsep dan Metode Pendidikan, dan III. Falsafah Pendidikan Islam. Tanpa daftar pustaka satu pun, menurutku membuatnya terlihat sangat santai dan kurang ilmiah padahal tema yang diangkat sangat penting. Menyusahkan juga bagi orang-orang yang ingin membacanya lebih lanjut. Berikut saya lampirkan daftar isinya:



Daftar Isi Memulihkan Sekolaah Memulihkan Manusia: Meluruskan kembali falsafah pendidikan kita


Daftar Isi Memulihkan Sekolaah Memulihkan Manusia: Meluruskan kembali falsafah pendidikan kita

Sebenarnya ini adalah susunan sistematis kumpulan tulisan pilihan yang dibuat sebagai bahan pelatihan untuk civitas academica, materi-materi sosialisasi prinsip-prinsip pendidikan ke orangtua, maupun artikel yang dikirim ke media massa.

Pada pendahuluan, penulis membukanya dengan “… kegagalan akademis siswa bukanlah akibat tidak adanya/kurangnya upaya oleh sekolah, melainkan justru ‘ulah’ sekolah.” – John Holt dalam How Children Fail. Pembukaan yang cukup baik.

Selanjutnya tidak banyak yang bisa kutuangkan, saya hanya akan memperlihatkan bagian-bagian yang menurutku menarik dalam buku ini yang diambil dari setiap bagian.

Bagian I: Falsafah Pendidikan

Melalui kalimat Einstein “Saya ini boleh dibilang adalah seniman juga, yakni dalam hal saya banyak mengambil dengan bebas dari imajinasi saya. (Sesungguhnya) imajinasi lebih peting daripada pengetahuan (rasional). Pengetahuan itu terbatas. Imajinasi merangkul dunia.” Kita diingatkan kembali bahwa banyak penemuan saintifik terjadi lewat imajinasi dan itulah mengapa seni menjadi bagian penting dalam pendidikan.

Bagian II: Konsep dan Metode Pendidikan

Haidar Bagir menjelaskan bahwa terdapat McNamara Fallacy dalam pendidikan, di mana kita menilai kualitas pendidikan melalui TIMSS dan PISA yang sebenarnya bersifat kuantitatif. Pengukuran kemampuan hanya pada bidang matematika, sains, dan membaca memanglah bagian yang penting namun bisa saja bukan yang terpenting. Kita diajak lebih memperhatikan budi pekerti, kecerdasan emosional dan spiritual, dan kemampuan-kemampuan sosial kemasyarakatan.

Bagian III: Falsafah Pendidikan Islam

Ini merupakan bagian paling tipis, the last but not least. Membahas bagaimana perspektif Islam dalam pendidikan, di mana Islam mengajarkan bahwa manusia berpotensi untuk mendapatkan pengetahuan-pengetahuan dari alam ruhani dan material. Meski demikian, masih terdapat dua kelemahan pendidikan agama di Indonesia, yakni: Pertama, terlalu berpusat pada hal-hal yang bersifat simbolis, ritualitas, dan legal-formalistis. Kedua, tidak memenuhi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Sehingga optimalisasi potensi yang bisa didapatkan peserta didik kurang maksimal.

Demikianlah, untuk lebih lengkapnya silakan dibaca langsung. Setidaknya melalui tulisan ini, saya ikut berharap semoga ke depannya profesi guru akan dianggap seksi bagi anak-anak muda Indonesia.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkenalan dengan Paya Nie

Aravind Agida dalam Harimau Putih

Seorang Perempuan yang Berlutut kepada Tuhan