Semenjak di Bandung (Part 1)
Suhu dan ingin menjadi Suhu
Mari kita mulai.
Ini bukan mengenai mengapa Bandung? Bukan pula tentang Soekarno yang ingin kembali kepada cintanya yang entah kamu terjemahkan sebagai Bandung atau Inggit. Memang ini bukanlah apa-apa. Hanya tentang seorang manusia yang berasal dari suatu wilayah yang terbiasa dengan keringat di siang dan malam hari beralih ke daerah Bandung Lautan Api, yang tidak ada panas-panasnya. Setidaknya demikian pada awal mula transisi tersebut.
Bandung saat ini sudah tidak dingin lagi, tahun 1980an pagi hari disambut dengan embun dan jaket tebal yang tidak terpisahkan dari tubuh, sekarang Seseroang menggunakan baju setipis mungkin agar tidak keringatan, begitulah pengakuan Seseorang. Mendengar hal tersebut membuat diriku yang menggigil di hari pertama, kedua, ketiga, dan beberapa hari selanjutnya merasa sangat direndahkan. Seolah teman yang disambut demam, batuk, dan pilek pun bukanlah sesuatu yang diakibatkan suhu.
Setelah melewati pertarungan panjang dengan selimut, saya mencoba meyakinkan diri untuk tidak akan terkalahkan. Maka tibalah saatnya untuk melawan suhu ini dan menjadi suhu. Kesempatan ini kudapatkan pada sebuah kegiatan kemah penyambutan di Pangalengan yang merupakan salah satu wilayah dengan suhu rendah di Bandung. Saya mengabadikan suhunya 12 derajat celcius pada pukul 05.28 di story instagramku, tentu suhu jauh lebih rendah pada dini hari.
Dengan ketetapan hati yang kuat, saya mengabdikan diriku pada perkemahan tersebut. Kujalani malam dingin tanpa menggunakan jaket tebal yang kubawa ketika manusia-manusia asli Bandung pun berlagak seperti orang Korea di musim salju, kutelusuri mimpi dengan menggunakan kaos putih lengan pendek di dalam sleeping bag yang mempersilakan angin menyentuh kulit tipis ini. Kemudian memulai hari dengan mandi air es langsung dari alam. Sungguh kepongahan yang luar biasa, merasa diri adalah suhu dalam melawan suhu.
Hingga akhirnya, tidak genap tiga hari kemudian saya jatuh sakit. Suhu tubuhku panas sekali, badanku sulit digerakkan, kehausan, kelaparan, dan sendirian. Inilah akibat dari sebuah pertarungan yang sia-sia, kemenangan yang tidak membawa apa-apa selain kekalahan itu sendiri. Tidak ada orang yang terpikirkan untuk meminta bantuan, saya belum begitu mengenal orang-orang di sini, sekali lagi sendirian.
Jika sosialis tidak berfungi mari kita beralih ke kapitalis, saya memanggil tukang pijat dengan upah yang menurut ukuranku cukup mahal, namun cukup ampuh untuk membuat kesehatanku membaik. Saya tidak demam lagi dan tersisa batuk, batuk yang sangat panjang, batuk seratus hari namanya. Meski sebenarnya lebih lama dari seratus hari. Situasi yang begitu mengganggu bagiku dan teman-teman yang kutemui.
Seratus hari tidak berlalu begitu saja. Agar lekas mengucapkan selamat tinggal dari batuk yang begitu mencintaiku itu, pada bulan pertama saya mencoba ke apotek untuk membeli obat yang diresepkan kakakku, namun ternyata jenis obat tersebut harus melalui resep dokter. Sungguh menyedihkan. Tenang saja, persoalan obat ini terselesaikan dengan seorang teman yang terlihat seperti Sinterklas membawakannya untukku dengan cuma-cuma. Kakakku pun mengirimkan obat itu dari pulau yang jauh di sana, dan berhasil tiba sebelum seratus hari berlalu.
Pilihan selanjutnya adalah ke klinik. Ini memanglah jalan yang benar namun ketakutan akan kondisi keuanganku waktu itu membuatnya tampak salah. BPJSku masih belum dialihkan dan proses peralihannya membutuhkan waktu yang cukup panjang, maka dengan ini menyatakan ke-me-nye-rah-an. Begitulah tiga bulan berlalu dengan air hangat dan madu selalu mendapatkan tempat pada tumbler tercinta. Bye bye batuk seratus hari yang tidak seratus hari.
Satu semester telah lewat dan kini saya sependapat dengan Seseorang, Bandung tidaklah sedingin dulu. Meski dulu yang dia maksud jauh berbeda dengan dulu dalam benakku. Kini saya dapat melewati saat-saat di kamar mandi dengan santai tanpa drama menggigil, mandi yang baik, mandi sebelum beraktivitas di pagi hari dan mandi sebelum tidur di malam hari. Berbeda dengan temanku yang memiliki nama sangat Budha namun seorang muslim taat, hingga saat ini pun masih terbiasa memasak air panas untuk mandi, padahal telah memasuki bulan keenam. Kasihan sekali dia.
Saya merasakan kepongahan kembali datang namun tidak menanti sanksi alam di kemudian hari. Salam sehat raga dan akal!

Komentar