Segala kedongkolan tentang alarm



Masih sering sliweran di media sosial, pada sebuah podcast dr. Tirta mengatakan bahwa kurang tidur di malam hari tidak dapat digantikan dengan tidur di pagi hari. Setiap orang memiliki jatah begadang yang di kemudian hari akan menjadi manuver yang merusak kesehatan tubuh. Karena itulah saya merasa bersalah pada masa depanku jika terus-terusan begadang. Kuputuskan untuk tidak begadang lagi.

Saya akan mengurangi melakukan hal yang dikatakan Rhoma Irama tersebut untuk jangan dilakukan jika tiada ada artinya. Begadang, jangan begadang jika tiada artinya. Tekad itu kupegang kuat-kuat dengan mengetahui bahwa peganganku lemah. Kucoba tidur paling lambat sebelum jam satu, entah untuk menghabiskan durasi film atau menamatkan bacaanku, atau sekadar menambah jumlah halaman agar lebih cepat selesai. Apapun itu, kubulatkan tekad untuk tidak begadang. 

Kumulai tidur nyenyakku dengan capek agar mencapai kenikmatan optimal. Satu jam berlalu dengan indah, dengan atau tanpa bunga tidur. Mimpi bukanlah bunga yang harus ada di dalam setiap tidur, tidak dapat diumpakan tidur tanpa mimpi bagai taman tak berbunga. Sebab ada kalanya kamu hanya butuh tidur seperti orang mati. Bangun dalam keadaan segar seperti hidup dengan cinta, bagai taman yang berbunga, oh begitulah kata Para Pujangga. 

Satu jam berikutnya alarm berbunyi. Saya terbangun dengan begitu terpaksa. Awalnya dongkol, hingga akhirnya kemarahan membuncah. Saya tidak pernah begitu membenci orang lain, kecuali pada malam hari ketika saya harus terbangun karena alarm yang tidak kunjung berhenti karena dihentikan, berhenti sendiri, atau setidaknya berhenti karena HP tersebut rusak. Seandainya tidak berbahaya, saya berharap hp tersebut meledak agar tidak ada lagi bunyi alarm. Saya sudah terlalu sering mengatakan ketidaksukaanku terhadap alarm namun entah kenapa kesannya bagai angin lalu. Hari ini kubilang, malam itu pula terjadi lagi. Mungkin jika kubilang saya bisa mati jika keseringan terbangun karena alarm, baru ada satu orang yang tergerak untuk mematikan alarm tersebut. Lagian alarm memang sangat membunuh, seperti yang dikatakan dr. Tirta. Itu dosa. Selain karena membuat saya akhirnya begadang dan mengambil jatah tidurku, alarm juga membuat kemarahanku meningkat. Kemarahan bisa loh mencelakakan orang, terlebih jika orang itu adalah saya.

Lagian alasan apa yang mendasari kalian memasang alarm jam dua dini hari, setiap hari, tanpa bangun sekali pun? Meski hanya untuk sekadar mematikannya? Jika memang untuk melakukan ibadah malam ya silakan saja, toh alarmnya akan dimatikan setelah anda bangun. Sekali putaran, bersihkan nada berisik dan nada kotoran. Eh, ini alarm, dengan nadanya yang menjengkelkan, bunyinya yang berisik, tidak pernah berhenti secepatnya. Berhenti hanya karena sistem bawaan dari hp yang memberikan toleransi untuk tidak berbunyi lagi jika telah diabaikan berkali-kali, kali banyak. Kalau saya adalah hp yang dipasangi alarm tanpa ada yang bangun, saya akan berhenti berfungsi. Akan kulakukan tugasku dengan baik di malam  pertama, kemudian di malam berikutnya saya hanya akan meninggalkan pesan bahwa anda telah melewatkan alarm. Seolah saya benar-benar berbunyi namun telinga anda rusak karena itu tidak terbangun, sama seperti malam sebelumnya. Kekonsistenan otomatis alat-alat elektronik inilah yang sebenarnya memperlihatkan sisi negatif. Hp misalnya, tidak dapat merasakan penderitaan orang lain serta kebodohan Tuannya. 

Makanya saya selalu beranggapan bahwa memasang alarm dan tidak terbangun karena alarm tersebut adalah sebuah dosa besar. Itu adalah tindakan mengganggu kenyamanan orang lain yang seharusnya diberikan pasal khusus untuk mempidana seseorang. "Setiap warga negara yang memasang alarm tanpa terbangun sehingga membuat orang lain yang terbangun, dipidana mengganggu kenyamanan orang lain, dengan pidana penjara paling lama 3 hari dengan diiringi alarm paling jelek sedunia, atau pidana denda paling banyak kategori IV, yaitu Rp200 juta." Agar memberikan efek jera. Meski sebenarnya hukum di negeri ini tidak pernah semembantu itu. 

Sebagai orang yang memasang alarm dengan hanya mode getar membuatku tidak habis pikir, tidak dapat kumengerti, kaki di kepala, kepala di kaki. Bisa-bisanya ada orang yang masih hidup namun tidak terbangun karena mendengar musik jelek yang berulang itu. Suara paling menjijikan sejagat raya. Meski demikian, sebagai orang yang baik hati, tidak sombong, dan suka menabung shopee paylater, saya akan selalu mendoakan orang-orang seperti ini untuk segera dibukakan hatinya, dibukakan telinganya, dibukakan matanya, dan menekan bagian matikan alarm.

Demikianlah, atas kesempatannya diucapkan banyak terima kasih. Semoga hidupmu senin selalu.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkenalan dengan Paya Nie

Aravind Agida dalam Harimau Putih

Seorang Perempuan yang Berlutut kepada Tuhan