As Long as the Lemon Trees Grow

As Long as the Lemon Trees Grow

As Long as the Lemon Trees Grow
Ingin sekali saya memotret buku ini di depan Lemon Trees namun di halaman rumahku hanya ada pohon mangga.

Akhirnya selesai juga membaca buku ini setelah 13 hari, waktu yang cukup panjang untuk novel 477 halaman. As Long as the Lemon Trees Grow bermunculan di twitter, dan itulah yang membawaku pada kesimpulan: ayo baca buku ini. Seandainya di depan rumahku juga tidak ada pohon mangga maka saya akan memotret covernya dengan menggunakan anak-anak yang sedang belajar Iqro sebagai modelnya, sebab covernya begitu identik. 

Premisnya menarik, mengangkat tema kemanusiaan dan romansa di tengah perang Suriah. Tepatnya Homs, ketika Salama yang seorang apoteker dialihfungsikan sebagai dokter, bertemu Kenan, sang calon suami yang dipilihkan orang tuanya sebelum perang berkecamuk, serta dipilihnya secara pribadi saat perang berlangsung. Kehadiran Khawf yang menyadarkan kita akan trauma yang dimiliki Salama membuat kita kegocek pada kenyataan yang ada pada diri Layla. Itu adalah saat paling mengasyikkan bagiku, saya berhenti membaca buku dan membuat story, menanti kesadaranku menyatu.

Zoulfa Katouh berhasil mendapatkan perhatian besar atas karyanya ini. Pada cetakan V, Mizan Pustaka menuliskan bahwa buku ini telah diterjemahkan ke dalam 21 bahasa dan menjadi kandidat Shortlisted Book of the Year Discover di British Book Awards 2023. Meski akhirnya dimenangkan I'm a Fan karya Sheena Patel, tetap banyak selamat untukmu.

Dengan mencoba menuliskan penderitaan orang-orang Suriah, dan tentu saja masih relate dengan apa yang terjadi di Palestina saat ini, As Long as the Lemon Trees Grow berhasil menggambarkan kepada pembaca mengenai trauma yang terus berdatangan. Kehilangan orang tua, kehilangan orang-orang terkasih, mendoakan kematian kakak satu-satunya agar tidak tersiksa lebih lama di penjara, hidup bersama halusinasi yang dibangun atas ketidakterimaan atas kenyataan, sadar bahwa memilih meninggalkan tanah kelahiran bukanlah tindakan pengecut, menjadi licik untuk mempertahankan hidup terkasih dengan mengesampingkan terkasih orang lain. Luka fisik tidak dapat dihitung, luka psikis jangan dihitung. Bahkan setelah bertahun-tahun berlalu, suara pesawat masih terus membuka kenangan lama dengan trauma baru.

Jujur saja, saya paling terluka setiap membaca bagian ketika orang-orang di dalam cerita ini tidak dapat tidur nyenyak sambil memikirkan betapa nyenyaknya tidur kita, tidur orang-orang yang sempat membaca buku ini. Huhu.

Terlepas kemudian buku ini berkisah dengan baik mengenai penderitaan, namun bagiku asmara yang dihadirkan terlalu besar, mendominasi. Happy Ending membuat penderitaan orang-orang yang ditinggalkan serasa tertinggal. Banyak percakapan bernuansa begitu cringe ala Korea. Baiklah, semua orang berhak jatuh cinta dan bahagia, namun itu bukanlah kenyataan umum untuk orang-orang yang terlibat perang. Mungkin juga akan sangat baik jika lebih banyak lagi fakta-fakta perang yang disajikan untuk menambah nilai trauma yang dimunculkan.

Saya hanya berharap bisa lebih banyak merasakan empati, dan kisah cinta ini banyak membuatku terlupa. Tentu saja harapanku ya harapan yang tidak seharusnya dilabuhkan terhadap novel yang sedari awal menekankan keberadaan romansa. Bagaimana pun juga novel ini baik, silakan dibaca.



Komentar

Anonim mengatakan…
Menyala ibu guru q, boleh nih menerbitkan novel sendiri😉

Postingan populer dari blog ini

Berkenalan dengan Paya Nie

Aravind Agida dalam Harimau Putih

Seorang Perempuan yang Berlutut kepada Tuhan