Ngomongin Maharaja (2024) dan Keadilan (secara) Abal-abal.

 Maharaja (2024)

Saya tidak pernah percaya bahwa hukum dapat memberikan keadilan. Hukum hanya memberikan ganjaran, bukan menciptakan situasi dengan kesakitan yang sama persis, bagi korban, dan siapa pun yang terkena dampak kejahatan tersebut. Ketika keadilan itu tidak mampu kamu dapatkan, pilihanmu hanya dua: mencoba membalasnya dengan hukum atau balaslah dengan lebih kejam.

Wow, lancar sekali tanganku menulis ini. haha.

Baiklah, mari kita mulai bercerita mengenai Maharaja (2024) yang disutradarai oleh Nithilan Saminathan. Sebuah film dengan durasi 141 menit, bercerita mengenai seorang tukang cukur bernama Maharaja yang melaporkan perampokan yang terjadi di rumahnya hingga harus kehilangan Lakshmi, sebuah tong sampah dengan tulisan "USE ME." Lakshmi bukan sekadar tong sampah, benda itulah yang menyelamatkan anaknya dari maut. Maharaja menginginkan Lakshmi kembali sebelum anaknya datang dari study tour. Sungguh kasus yang tidak masuk akal, kasus ini terlalu remeh untuk dikerjakan, duit perlu bekerja, dan karena tawaran imbalan yang dijanjikan Maharaja kepada polisi-polisi tersebut akhirnya penyelidikan dimulai. 

Tidak ada penyelidikan yang benar-benar direncanakan sejak awal, membuat tong sampah yang persis dengan Lakshmi adalah kunci tindakan polisi, bersama dengan aktor yang disiapkan untuk menjadi tersangka. Sangat gampang, itu adalah pekerjaan sehari-hari polisi untuk mencari nafkah. Film ini sangat gamblang memperlihatkan busuknya instansi pemerintah dengan seragam coklat dan perut buncit itu. 

Hanya dengan bercerita soal kebusukan polisi dan drama-dramanya, film ini tampaknya akan tetap bagus. Namun, Nithilan Saminathan memberikan lebih dari itu, plot yang diberikan sungguh mengesankan. Mengetahui bahwa alurnya maju mundur pun tidak mampu memberikanmu pegangan yang kuat untuk mudah mengerti, tidak tertebak, dan meresahkan penonton. Justru hanya adegan-adegan brutal yang mampu menyenangkan penonton. 

Tidak ada keadilan yang didapatkan. Pelaku setidaknya harus menjadi perempuan, remaja, dipukul, diperkosa secara bergiliran, dan merasakan segalanya untuk mendapatkan ganjaran yang serupa, sebuah keadilan. Meski dengan semua kebrutalan yang ada di dunia ini, pembalasan tidak akan pernah cukup. Pembalasan adalah akibat dari sebuah sebab, posisinya tidak seimbang dari awal. 

Apa yang dialami gadis cantik ini seharusnya tidak dapat dikatakan sebagai pembalasan dendam, sangat tidak berdasar. Pertama, karena penahanan Selvam tidak ada hubungannya dengan Maharaja. Kedua, apa yang menimpahnya adalah akibat dari tindakan buruknya sendiri, istrinya pergi karena tidak ingin mendapatkan kebahagiaan atas penderitaan orang lain. Terlebih lagi, tidak rela anaknya disentuh lagi oleh Bapak yang menyentuh anak orang lain dengan kejam. Sebab-akibat harus jelas.

Bagaimana pun juga, darah yang mengalir di jejak kaki Ammu adalah scene terbaik menurutku. Sebab-akibat yang begitu jelas.

Selamat menonton.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkenalan dengan Paya Nie

Aravind Agida dalam Harimau Putih

Seorang Perempuan yang Berlutut kepada Tuhan