Menonton Eksil (2020) untuk Kedua Kalinya

Prakata

Ucapan terima kasih untuk penyelenggara kegiatan, yakni mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan. Berkatnya saya dapat menonton Eksil (2022) untuk kedua kalinya, setelah kali pertama di TSM Bandung. Terlebih, kali ini dipertemukan langsung dengan sutradara sekaligus produser filmnya, para narasumber hebat, dan seorang Ibu yang merupakan eksil. Tentu saja ini memberikan pengalaman bermakna tersendiri buatku. 

Kegiatannya berjalan dengan sangat baik, jika saja tidak perlu menunggu dua jam lebih untuk memulai pemutaran. Bagaimana pun juga, kegiatan ini happy ending. Panitiannya sangat ramah, pengamanannya ketat, dan dua barangku disita selama kegiatan berlangsung hehe.


Bukan lagi Prakata

Untuk kedua kalinya menonton film ini, rasa terima kasihku kepada Lola Amaria jadi semakin berlipat. Sebuah film yang tentu saja membutuhkan perjuangan yang besar, sebuah penelitian dengan validasi berlapis, dibuat dengan tekun, dan berhati-hati. Beberapa perasaan baru tercipta, kemarahan yang semakin tajam, rasa bersalah, dan kesedihan yang semakin jelas.

Bercerita mengenai 10 Eksil yang terjebak di luar negeri karena rezim berganti. Mereka adalah Hartoni Ubes, Sarjio Mintardjo, I Gede Arka, Asahan Aidit (adik bungsu D. N. Aidit), Chalik Hamid, Djumaini Kartapawira, Kuslan Budiman, Sarmadji, Tom Iljas, dan Waruno Mahdi. Kesemuanya adalah orang-orang yang percaya kepada Lola Amaria dan bersedia untuk dijadikan bagian dalam film ini, mengorek luka lama yang masih terluka. Beberapa lainnya memilih untuk tidak menerima tawaran tersebut karena beberapa alasan, faktor kecurigaan dan ketakutan tentu saja yang mengambil cukup tempat untuk alasan-alasan tersebut.

Melalu Orde Lama, Soekarno mengirimkan mereka untuk belajar, bersama Orde Baru, Soeharto mencegah mereka kembali karena tidak bersedia menandatangani pernyataan yang tidak sesuai hati nurani para eksil. Kesetiaan mereka kepada presiden pertama tidak dapat ditawar. Sebagai jalan termudah, mereka dicap PKI, dalang dari peristiwa pembantaian 1965. Dampaknya bukan hanya pada pemulangan mereka, namun juga kepada keluarga yang ditinggalkan di Indonesia. Ada yang istri dan anaknya yang masih kecil dipenjara, saudaranya menghilang hingga saat ini, keluarga terbunuh, hidup dengan KTP Eks Tapol G30S yang kemudian membatasi gerak mereka dalam banyak aspek.

120 menit yang membuatku banyak belajar mengenai betapa kejamnya sejarah, bagaimana sejarah itu masih terus menghantui mereka yang mengalami, dan terlupakan dengan begitu mudahnya oleh generasi selanjutnya. Ini yang membuatku mengerti kenapa Lola Amaria mengatakan bahwa sasarannya adalah generasi milineal dan setelahnya. Editornya pun mengerti keinginan sang produser dengan menyajikannya demikian rupa. 

Hal yang paling terlihat dari kesepuluh orang ini adalah kecintaannya kepada tanah air, nasionalisme. Meski telah diasingkan dengan paksa, Chalik Hamid menanam bambu dan pisang untuk mengingatkannya kepada kampung halaman. Ada yang membeli komputer hanya untuk mencari tahu berita terkini mengenai Indonesia, Sarjio Mintardjo mejadikan tempatnya sebagai rumah bagi orang-orang yang berkuliah di Leiden dan Amsterdam, dan juga sebagai rumah singgah bagi siapapun yang berasal dari Indonesia. Sebuah solidaritas yang sangat kuat keIndonesiaannya.

Akhirnya, cara termudah untuk kembali ke Indonesia adalah dengan menjadi tamu, menggunakan kewarganegaraan lain. Kartaprawira sengaja menjadi warga negara Belanda agar dapat ke Indonesia, meski terlalu terlambat untuk melihat orang tuanya meninggal dan dikuburkan. Ada juga yang berkesempatan melihat pemakaman ayahnya berkat kewarganegaraan Jerman. Kuslan Budiman hidup tanpa kewarganegaraan selama 34 tahun dan akhirnya baru bisa kembali setelah itu. Kunjungan pun tidak selalu berjalan lancar, Tom Iljas sempat berkunjung ke Sumba pada tahun 2015 namun akhirnya dideportasi. Asahan Aidit ditolak oleh keluarganya sendiri bahkan diusir pada hari kedua kunjungannya.

Masalah percintaan ternyata tidak luput memilukan, Chalik Hamid harus berbahagia istrinya dinikahi oleh sahabatnya sendiri untuk menyelamatkan istri dan anaknya setelah dipenjara. Waruno Wahdi dipenuhi kecurigaan pada setiap pacarnya, menganggap mereka adalah mata-mata Rusia. Bahkan ada yang tidak memberanikan diri untuk membangun rumah tangga karena memikirkan bagaimana mungkin bisa meninggalkan keluarganya nanti jika mereka bisa kembali ke tanah air. Dia menua begitu saja, bersama dengan harapan-harapan yang tak kunjung menemukan tempatnya berlabuh.

Menahan orang-orang hebat ini sungguh adalah kebodohan negara. Waruno Wahdi bahkan terpilih untuk mendapatkan pekerjaan melawan orang-orang Jerman asli, ini bukti nyata betapa kemampuannya tidak perlu dipertanyakan lagi. Mereka semua adalah orang-orang terpelajar dan ingin belajar, yang seharusnya dipulangkan dan membantu kemerosotan bangsa ini. Hampir tidak ada di antara mereka yang diliput tanpa tumpukan buku sebagai latar, bahkan ada yang dengan gilanya mengarsipkan buku-buku yang berhubungan dengan Indonesia. Mengingat Indonesia masih sangat lemah dalam pengarsipan, ini sungguh ironi.

Sekarang, snam dari sepuluh Eksil di dalam dokumenter ini telah meninggal dunia. Sardjio Mintardjo bahkan berpulang sebelum film ini selesai, kepulangan abadinya diiringi lagu Indonesia Pusaka karya Ismail Marzuki. Sungguh pukulan yang sangat besar, kesedihan dan kemarahan bertarung, betapa ketidaktahuan benar-benar adalah dosa besar. Ini adalah adegan paling menyedihkan sepanjang dokumenter, bagiku.

Benar kata Gus Dur, Tap MPR Nomor 25 Tahun 1966 tentang Pembubaran PKI bertentangan dengan UUD NRI Tahun 1945, dan ini menyalahi asas lex superior derogat legi inferiori. Bahwa peraturan yang lebih rendah tidak boleh bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi. 

Penutup

Ada hal yang menarik yang kualami ketika menonton film ini. Seseorang yang duduk di sampingku tiba-tiba mengajakku berbicara, dan dengan sama tiba-tibanya, Dia memperlihatkanku artikel yang judulnya kurang lebih "PKI adalah musuh Islam" dengan alasan yang tidak kuketahui. Karena jujur saja saya tidak dapat mendengarnya begitu jelas, dan fokusku terbagi karena saya lagi menikmati filmnya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkenalan dengan Paya Nie

Aravind Agida dalam Harimau Putih

Seorang Perempuan yang Berlutut kepada Tuhan