Menonton Eksil (2020) untuk Kedua Kalinya
Prakata
Ucapan terima kasih untuk penyelenggara kegiatan, yakni mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan. Berkatnya saya dapat menonton Eksil (2022) untuk kedua kalinya, setelah kali pertama di TSM Bandung. Terlebih, kali ini dipertemukan langsung dengan sutradara sekaligus produser filmnya, para narasumber hebat, dan seorang Ibu yang merupakan eksil. Tentu saja ini memberikan pengalaman bermakna tersendiri buatku.
Kegiatannya berjalan dengan sangat baik, jika saja tidak
perlu menunggu dua jam lebih untuk memulai pemutaran. Bagaimana pun juga,
kegiatan ini happy ending. Panitiannya sangat ramah, pengamanannya
ketat, dan dua barangku disita selama kegiatan berlangsung hehe.

120 menit yang membuatku banyak belajar mengenai betapa kejamnya sejarah, bagaimana sejarah itu masih terus menghantui mereka yang mengalami, dan terlupakan dengan begitu mudahnya oleh generasi selanjutnya. Ini yang membuatku mengerti kenapa Lola Amaria mengatakan bahwa sasarannya adalah generasi milineal dan setelahnya. Editornya pun mengerti keinginan sang produser dengan menyajikannya demikian rupa.
Hal yang paling terlihat dari kesepuluh orang ini adalah kecintaannya kepada tanah air, nasionalisme. Meski telah diasingkan dengan paksa, Chalik Hamid menanam bambu dan pisang untuk mengingatkannya kepada kampung halaman. Ada yang membeli komputer hanya untuk mencari tahu berita terkini mengenai Indonesia, Sarjio Mintardjo mejadikan tempatnya sebagai rumah bagi orang-orang yang berkuliah di Leiden dan Amsterdam, dan juga sebagai rumah singgah bagi siapapun yang berasal dari Indonesia. Sebuah solidaritas yang sangat kuat keIndonesiaannya.
Akhirnya, cara termudah untuk kembali ke Indonesia adalah dengan menjadi tamu, menggunakan kewarganegaraan lain. Kartaprawira sengaja menjadi warga negara Belanda agar dapat ke Indonesia, meski terlalu terlambat untuk melihat orang tuanya meninggal dan dikuburkan. Ada juga yang berkesempatan melihat pemakaman ayahnya berkat kewarganegaraan Jerman. Kuslan Budiman hidup tanpa kewarganegaraan selama 34 tahun dan akhirnya baru bisa kembali setelah itu. Kunjungan pun tidak selalu berjalan lancar, Tom Iljas sempat berkunjung ke Sumba pada tahun 2015 namun akhirnya dideportasi. Asahan Aidit ditolak oleh keluarganya sendiri bahkan diusir pada hari kedua kunjungannya.
Masalah percintaan ternyata tidak luput memilukan, Chalik Hamid harus berbahagia istrinya dinikahi oleh sahabatnya sendiri untuk menyelamatkan istri dan anaknya setelah dipenjara. Waruno Wahdi dipenuhi kecurigaan pada setiap pacarnya, menganggap mereka adalah mata-mata Rusia. Bahkan ada yang tidak memberanikan diri untuk membangun rumah tangga karena memikirkan bagaimana mungkin bisa meninggalkan keluarganya nanti jika mereka bisa kembali ke tanah air. Dia menua begitu saja, bersama dengan harapan-harapan yang tak kunjung menemukan tempatnya berlabuh.
Menahan orang-orang hebat ini sungguh adalah kebodohan negara. Waruno Wahdi bahkan terpilih untuk mendapatkan pekerjaan melawan orang-orang Jerman asli, ini bukti nyata betapa kemampuannya tidak perlu dipertanyakan lagi. Mereka semua adalah orang-orang terpelajar dan ingin belajar, yang seharusnya dipulangkan dan membantu kemerosotan bangsa ini. Hampir tidak ada di antara mereka yang diliput tanpa tumpukan buku sebagai latar, bahkan ada yang dengan gilanya mengarsipkan buku-buku yang berhubungan dengan Indonesia. Mengingat Indonesia masih sangat lemah dalam pengarsipan, ini sungguh ironi.
Sekarang, snam dari sepuluh Eksil di dalam dokumenter ini telah meninggal dunia. Sardjio Mintardjo bahkan berpulang sebelum film ini selesai, kepulangan abadinya diiringi lagu Indonesia Pusaka karya Ismail Marzuki. Sungguh pukulan yang sangat besar, kesedihan dan kemarahan bertarung, betapa ketidaktahuan benar-benar adalah dosa besar. Ini adalah adegan paling menyedihkan sepanjang dokumenter, bagiku.
Benar kata Gus Dur, Tap MPR Nomor 25 Tahun 1966 tentang Pembubaran PKI bertentangan dengan UUD NRI Tahun 1945, dan ini menyalahi asas lex superior derogat legi inferiori. Bahwa peraturan yang lebih rendah tidak boleh bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi.
Penutup
Ada hal yang menarik yang kualami ketika menonton film ini. Seseorang yang duduk di sampingku tiba-tiba mengajakku berbicara, dan dengan sama tiba-tibanya, Dia memperlihatkanku artikel yang judulnya kurang lebih "PKI adalah musuh Islam" dengan alasan yang tidak kuketahui. Karena jujur saja saya tidak dapat mendengarnya begitu jelas, dan fokusku terbagi karena saya lagi menikmati filmnya.

Komentar