24 Jam Tidaklah Cukup
Setelah dengan tekad yang begitu kuat untuk tidak begadang kemarin, hari ini aku tidur pukul enam pagi. Bangun setelah pukul dua belas siang dengan wajah serupa bakpao isi daging ayam. Kepalaku berusaha keras untuk bekerja, membawa kakiku ke toilet untuk membuang kotoran yang ada dalam diriku.
Buku Unaccustomed Earth menyapaku dengan warnanya yang pink menyala, entah apa namanya. Warna begitu banyak dan membingungkan, itulah mengapa melihat dunia dengan hitam dan putih menyesakkan. Semoga keyakinan akan keberagaman ini juga terjadi pada kebenaran. Warna yang paling sering kulihat akhir-akhir ini adalah warna kunang-kunang, tidak hanya terdiri kuning.
Setelah sedikit membaca buku Jhumpa Lahiri, aku teralihkan dengan chat yang masuk. Dan di sinilah aku tiba-tiba menulis dan membiarkan buku yang kupinjam dari Room19 itu tertutup terpinggirkan di kasur yang sepertinya kena guna-guna. Aku gak yakin seratus persen, hanya sekitar 0,009% keyakinanku bahwa ada guna-guna yang melekat padanya. Dia tidak membiarkanku tidur di malam hari dan kalau bukan guna-guna, apalagi coba? Ya ada banyak jawaban lain sih.
Maaf melantur, sekarang aku akan menulis intinya. 24 jam sehari tidaklah cukup, aku butuh tambahan waktu untuk tidur. Akan kukirimkan petisi kepada Pencipta Alam dengan nada mengancam:
Kepada: Yth. Tuhan Yang Maha Esa,
Bersama dengan surat ini aku menyampaikan permintaan untuk menambah empat jam lagi dalam sehari, tempatkan setelah subuh, sehingga tidurku bisa lebih panjang lagi. Jika tidak, pilihan lainnya hanya satu: buanglah guna-guna yang ada di kasurku itu dan buatlah aku tertidur lebih cepat.
Dengan penuh pengharapan,
Hamba-Mu yang kekurangan tidur.
Itu saja sih, toh ini tulisan sambil menunggu nasiku masak. Betapa rindunya aku kepadamu.

Komentar