Mengenai Bukan Pasarmalam karya Pramoedya Ananta Toer

Bukan Pasarmalam


Bukan Pasarmalam,

Setelah berkali-kali mendengar judulnya Bukan Pasarmalam, saya selalu membayangkan sebuah pasar malam yang ramai dengan segerombolan manusia, gelak tawa, lampu berwarna warni, bau makanan, dan segala hal yang tercampur dalam bentuk kebahagiaan. Padahal sudah dibilangin bukan, bahkan kata "bukan" itu berada di depan kata "pasarmalam". Harusnya terlihat lebih dulu! Pada dasarnya memang bebal saja untuk tetap memikirkan pasar malam.

Buku ini disusun dengan urutan kata-kata yang menarikmu untuk menyelesaikannya dalam sekali duduk, mengingat ukurannya kecil dan cukup tipis. Memang, bahasanya cukup tua, namun tetap mudah dimengerti dan justru memberi kesan keindahan dari masa lalu pun kegetiran yang tersimpan pada sejarah kelam.


"Dan malam di luar terus juga menelan umur manusia,"

"Dan aku menghiburnya dengan kata-kata kosong,"

"Dan di kala itu terasa oleh hatiku betapa gampangnya manusia dengan manusia ini didekatkan oleh kemanusiaan."

Dan... dan... dan yang lain. Betapa saya menyukai setiap "dan" yang ia tuliskan di buku ini. Mengingat betapa bencinya saya dengan aturan bahwa kata "dan" adalah penghubung dan tidak seharusnya berada di depan kalimat pada ragam tulisan bahasa Indonesia formal. Ya, ini sastra sih! 

Bercerita tentang hubungan seorang anak sulung laki-laki yang datang dari rantau menemui ayahnya yang hanya mampu terbaring, terbatuk, dan tertinggal sendirian. Sepanjang saya membacanya, perasaan-perasaan yang ada di dalamnya terbaca sangat jujur. Bagaimana orang-orang yang merawat orang sakit selalu terpikir bahwa kepergian itu sebentar lagi datang, tidak berharap apa pun, menganggap semuanya adalah adegan perpisahan.

"...Aku ingin dunia ini seperti pasarmalam," sebuah kalimat yang akhirnya muncul di bab-bab terakhir oleh seseorang yang datang melayat, kemunculannya sekali, dengan sebuah kalimat yang dia sendiri pun tidak mengerti. Keinginan untuk datang ke dunia bersama-sama dan pergi meninggalkan dunia berbondong-bondong; sebuah perjalanan membahagiakan untuk menjalani hidup layaknya pasar malam. Dan dunia bukan pasarmalam.

Namun, bukan kematian yang disesali. Penyesalan datang pada apa yang terjadi di balik semua ini: pada negara yang kacau balau, yang mengacaukan kehidupan, menghidupkan kesengsaraan bagi manusia, dan tidak memanusiakan siapa pun.

Pengalaman membaca yang nikmat, memberiku waktu untuk mengenang hal-hal yang telah terjadi, baik yang bentuknya sesuatu yang ingin dinikmati kembali hingga yang ingin kuhindari untuk diingat lebih jauh. Intinya, apapun kenangannya, ini berharga.

Kematian seharusnya dirayakan sama seperti kehidupan, jika itu pasarmalam?

Komentar

salrizk mengatakan…
Kak emma ini untukmu 🫶
Lazyperson mengatakan…
/mengirim bunga sekebon/
Anonim mengatakan…
I feel attracted to read it, this book, a whole of this book.
Lazyperson mengatakan…
You should. Totally worth the journey.

Postingan populer dari blog ini

Berkenalan dengan Paya Nie

Aravind Agida dalam Harimau Putih

Seorang Perempuan yang Berlutut kepada Tuhan