Dari Kos ke Kos
Dari
Kos ke Kos
Ditulis oleh seorang yang
bukan Tan Malaka. Saudaranya pun bukan.
Dalam setahun ini, aku telah menempati empat kos yang berbeda. Sungguh akulah orang yang paling “kos konsumtif” pikirku, dan itulah kebenarannya. Mari kuceritakan satu per satu kos yang kuhuni selama setahun ini. Namun, sebelum itu izinkan aku memulainya dengan bercerita mengenai kos lain yang pernah kuhuni seingat semampuku.
Pertama kali ngekos, seingatku, adalah ketika Praktik Kerja Lapangan (PKL) semasa Sekolah Menengah Kejuruan. Berlokasi dekat dari jalan layang tempat mahasiswa sepenjuru Sulawesi Selatan sering berdemo, demikianlah nasib jika berdekatan dengan gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Gedung keramat yang teramat gadungan. Dipilih dikarenakan harganya yang relatif murah bagi anak sekolah dan dapat memuat tujuh orang anak sekaligus. Terdapat tiga kamar yang kemudian dibagi menjadi satu kamar untuk tim laki-laki dan dua kamar untuk tim perempuan. Dan tim perempuan ternyata tidak sebersih itu, satu kamar yang awalnya adalah kamar, dalam waktu singkat berubah menjadi gudang pakaian.
Jalan menuju tempat PKL dari kos kurang lebih seperti labirin jika dilihat dari atas. Gang kecil bersambutan dengan gang kecil lainnya. Pada gang-gang tersebut ada berbagai pintu dengan berbagai warna yang bisa terbuka kapan pun pemiliknya menginginkan. Lokasi PKLku mudah ditemukan jika berada di jalan raya, sebab gedungnya besar dan benar-benar di seberang jalan layang. Yang menjadi soal adalah keluar dari gang-gang ini. Bagiku yang buta arah, setelah empat kali berangkat bersama teman, pada hari selanjutnya aku tersesat. Waktu itu temanku sakit sehingga aku harus berangkat sendiri. Butuh berlusin percobaan hingga aku menemukan jalan layang. Aku terlambat tanpa ada amukan dari pihak industri, hanya keringat yang terlalu deras berlarian di punggungku tanpa mengerti makna berhenti.
Episode pertemanan baru dimulai. Sering ketika sore hari kami menyibukkan diri mencari kutu, itu kali pertama aku melihat kutu di kepala laki-laki. Ketika menonton di ruang tamu kami lebih mirip dengan ikan sarden yang ditata rapi. Tidur boleh di mana dan kapan pun. Kami akan bercerita mengenai tugas yang diberikan, kejadian unik, hingga makian yang kita dapatkan. Sambil tertawa riang, menikmati kemiskinan. Tim laki-laki yang awalnya mengejek kami menonton Descendants of The Sun, menemui karmanya dengan ikut menangis sesenggukan menonton drama tersebut. Tidak butuh waktu lama bagi mereka menyelesaikan satu drama. Begadang adalah jalan ninjanya. Mereka melupakan kata Rhoma Irama, begadang jangan begadang, kalau hanya nonton Korea.
Yang paling aku senangi dari kos ini adalah keberadaan penjual bihun kuah yang enak sekali, itu adalah bihun paling enak yang pernah kurasakan. Bihun yang membuatku ingin mencoba bihun-bihun lainnya untuk menemukan rasa yang sama, boro-boro sama, mendekati rasanya pun belum pernah. Bagiku yang tidak begitu tertarik terhadap makanan, keinginan untuk memakan bihun ini melampaui batas wajar. Akulah yang merindukan bihun itu.
Ini adalah kali pertama aku berada di tengah-tengah kota. Sebuah tempat yang penuh gemerlap cahaya dikelilingi kegelapan yang teramat muram. Taruhlah jalan layang sebagai representasi kegemerlapan dan kosku sebagai titik kegelapan yang mengelilinginya. Dikarenakan letaknya itu, sehingga ada kalanya aku menemui kejadian seseorang dibusur di tengah jalan, temanku dirampas HP-nya sambil disodori pisau, dan dengan teganya memberikanku pengalaman yang sungguh mendebarkan hati.
Hari itu aku berangkat sendiri lagi, karena temanku telah berpindah tempat PKL. Di depanku sekelompok anak muda membawa linggis, tanpa sadar aku berbalik ke belakang dengan pikiran akan kembali ke kos. Namun, di belakangku yang hanya sepelemparan batu, ada kelompok anak muda lainnya sedang membawa batu. Jika batu itu dilemparkan kepadaku, tentu akan kena sasaran. Maju kena mundur kena. Otakku seolah berhenti berfungsi. Di dalam diriku hanya ada kekhawatiran atas nyawaku, entah bagaimana mayatku akan ditemukan, atau rumah sakit mana yang akan menyatakan kematianku. Dengan tinggiku yang tidak cukup 150 cm dan badan yang tidak berat, akulah tipe korban yang paling cocok. Aku tidak mengerti dengan kekuatan apa aku masih bisa berjalan dan melewati pasukan linggis tersebut. Hidupku terselamatkan dari batu dan/atau linggis, namun sedikit lagi terhenti karena jantungku berdebar terlalu cepat.
Sambil menata jantung, aku kepikiran bahwa di hari-hari berikutnya kejadian seperti ini bisa terulang kembali dan belum tentu nasib baik berada di tanganku. Terlebih aku tidak akan pernah ditemani siapa pun lagi. Apakah aku perlu membawa batu juga? Atau linggis? Bagaimana kalau justru mereka mengira aku bagian dari salah satu kelompok tersebut? Dan aku diserang? Nasib baik harus aku pegang dengan erat.
Dan ternyata kota adalah tempat yang sangat berbahaya dalam segala hal. Ketika menunggu temanku di sebuah jembatan, aku didatangi seorang bapak-bapak yang sungguh menyeramkan. Dia datang dengan menyalamiku, kemudian curhat tentang pacarnya, tentang bagaimana pacarnya meninggalkannya, dan karena itu dia hanya mampu coli setiap pagi, dia mempraktikkannya di depanku. Dia berperilaku demikian di pinggir jalan raya yang begitu ramai, aku sampai tidak bisa bergerak karena serangan ini. Untungnya temanku itu segera datang, seorang perempuan dan dua laki-laki, aku langsung memegang tangan entah siapa di antara mereka dan meminta agar segera pulang. Aku merasa ternodai, aku pulang dan mandi tiga kali. Padahal yang kotor bukanlah badanku maupun diriku.
Untuk menghiburku dari kejadian tersebut, teman-temanku memberi julukan kepada bapak brengsek itu. Mereka menyebutnya Cidaha, yakni akronim dari Cinta dalam Hati. Entah mengapa aku beneran terhibur padahal mereka bisa saja memberikan julukan yang berisi kata brengsek atau yang lebih buruk lagi.
Kejadian itu hal baru, dan ternyata selalu ada saja pengetahuan baru di setiap fase kehidupan. Di kos pertamaku ini aku mengetahui tanpa sengaja bahwa jika orang mandi di siang hari akan membuat kulit hitam. Aku tidak pernah mengecek kebenarannya. Dan entah mengapa aku enggan mengeceknya. Ini juga kali pertama aku memilih untuk pemilihan entah apa itu, menggunakan Kartu Tanda Penduduk orang lain, bukan hanya sekali namun beberapa kali. Bapak kos meminta kami melakukannya dan dengan bodohnya kami mengikutinya begitu saja. Sebagai catatan, waktu itu kami belum memasuki usia legal.
Kos keduaku adalah ketika kuliah. Itu adalah kos yang belum selesai dan memang tidak ada tanda-tanda pembangunan lanjutan. Aku tinggal di situ selama empat tahun, bukan karena aku setia, melainkan itu milik keluarga dari pihak bapak sehingga aku tidak perlu membayar sewa. Seandainya memiliki uang lebih, waktu itu sudah sangat logis aku pindah dari kos tersebut. Yang selalu kubayangkan adalah berbagai bau tai dengan kamar sebelah. Untuk kamu bayangkan, kamar mandiku disekat oleh ventilasi dengan kamar mandi kamar sebelah. Sehingga sangat memungkinkan jika kamu berak dan penghuni sebelahmu juga berak, bau tai kalian akan bercampur dan membentuk senyawa baru. Awalnya kuingat ini sebagai sesuatu yang unik. Meski kemudian setelah menuliskan ini aku baru tersadar bahwa itu bukan hal yang unik melainkan menakutkan, aku tidak mau membayangkannya lebih jauh.
Selanjutnya, kos pertama di dunia kerja. Aku bekerja jauh dari rumah sehingga pilihan untuk ngekos adalah wajib. Kosku cukup jauh untuk jalan kaki di tengah terik matahari yang lebih mirip lampu sorot pada pentas teater. Aku selalu membayangkan diriku kembali mementaskan sebuah teater setiap kali berjalan pulang kerja. Terlebih jalanan yang tidak ramah pejalan kaki. Ngekos di sini tidak memberikan banyak kenangan kecuali COVID dan batuk yang tiada henti. Dan kemudian pindah ke asrama.
Setelah dua tahun bekerja, aku mengajukan tugas belajar dan akhirnya bertemu dengan kos baruku lagi. Kali ini di Gerlong Girang. Itu adalah kali pertama aku ke Bandung dan tanpa mengenal siapa pun sehingga untuk mencari kos pun hanya bergantung pada aplikasi. Ketika sampai di kos tersebut, dengan sekali lihat aku langsung memutuskan untuk menyewanya setahun. Kos yang begitu dekat dengan kampus memang tidak akan ingin menanggung rugi dengan menyewakan kosnya sebulan atau setengah tahun pada awal semester. Ya, itu keputusan terburu-buru mengingat hari sudah gelap dan kecapean dari perjalanan jauh. Tidak butuh waktu lama aku terganggu dengan sempitnya kamar, dinding yang selalu lembap, dan sinar matahari yang tidak pernah mampu menyinari kamarku. Gedung tinggi yang mengelilingi kamarku mengerdilkan hatiku atas kepemilikan matahari yang dulu begitu jelas. Sebagai manusia yang berasal dari daerah yang tidak ada habisnya bergumul dengan matahari, saya tidak merasakan kehangatan barang sedetik pun di kos ini. Lantainya pun sama dinginnya. Kos ini yang kemudian membuatku berpikir bahwa orang Bandung tidak membutuhkan kipas angin.
Serta bau tai kucing menjijikkan yang akan selalu aku kenang penuh emosi. Aku tidak pernah memiliki keinginan memelihara kucing namun tidak membuatku membenci kucing, yang kubenci hanyalah tainya. Seingatku dulu, ketika aku masih di sekolah dasar, ada sebuah omongan yang kebenarannya dipercayai seluruh anak seusiaku, yakni siapa pun yang ingin kucingnya dekat dengannya maka harus berbagi air liur. Aku mengingat dengan jelas aku membuka mulut anak kucing berwarna jingga tersebut dan memasukkan air liurku pada rongga mulutnya, mendarat dengan sangat mulus. Selanjutnya aku tidak mengingat sedikit pun kedekatanku pada si kecil jingga tersebut. Seketika setelah menuliskan ini, mengingat ini, aku jadi terpikir apakah yang kuinginkan sebenarnya adalah rasa kedekatan dengan makhluk lain dan bukan terkhusus pada kucing itu? Apa pun makhluknya, kecuali ular. Dan jika kedekatan tersebut hanya terkhusus pada hewan peliharaan, maka sangat wajar memilih si jingga. Sebab di pulau yang kecil itu, tidak ada hewan peliharaan lain selain kucing. Tentu aku memelihara kambing namun mereka bukan tipe yang semakin dekat semakin baik, sebab dagingnya dimakan, sebab dia diperjualbelikan.
Pemilik kos tidak peduli dengan kebersihan dan itu sungguh membuatku kesal. Kesal sejadi-jadinya. Meski demikian aku tetap harus bertahan karena telah membayar untuk setahun penuh. Sungguh diriku sangat bodoh. Setahun berlalu dengan begitu banyak penyesalan.
Itulah tadi pendahuluannya, sekarang mari kita masuk ke inti cerita. Mengenai empat kos yang kutempati selama setahun ini.
Kos Pertama Tahun Ini
Akhirnya setelah setahun menghirup bau tai kucing dengan tanpa sabar, aku berpindah ke kos yang jauh lebih bersih. Pemiliknya membersihkan dua kali seminggu paling minimal. Kamarnya luas dan fasilitasnya lengkap. Perkenalanku dengan kos ini dimulai ketika aku dan teman-teman kelasku bersepakat untuk mengerjakan tugas statistika di kos seorang teman. Waktu itu aku menumpang mandi dan dengan bodohnya terjatuh di kamar mandi, lebam di mana-mana, untungnya masih hidup, dan bisa tertawa ngakak karena temanku ternyata mendengar suara seonggok daging jatuh namun mengira itu dari kamar sebelah. Padahal dalam keadaan tidak berdaya, aku memanggil mereka pelan-pelan karena tersadar bahwa betapa pun membutuhkan pertolongan, aku masih lebih butuh untuk mengenakan baju atau setidaknya handuk terlebih dahulu. Sejak saat itulah sandal yang kugunakan terjatuh itu disebut sandal kematian.
Meski hampir menjemput maut, namun bukan itu alasanku memilih kos tersebut. Kamar X yang kupilih adalah kamar di lantai paling atas dengan loteng yang begitu luas. Tangga naik yang membentuk persegi begitu mirip dengan tangga menuju surga di film-film Indosiar. Cahaya cemerlang terpancar dari atas sana, seolah aku memang dilahirkan untuk tinggal di surga.
Sebelum insomnia menyerang, setiap pagi aku akan berjemur sambil membaca buku dengan ditemani hangatnya mentari pagi. Sore hari kugunakan untuk melihat matahari menuruni gedung-gedung bertingkat. Dengan empat lantai, ketinggian kos ini membuat pandanganku jauh lebih luas, serta berhasil membuatku malas untuk turun. Jika malam tiba, loteng ini pulalah yang akan menemaniku membaca buku. Aku menyukai setiap momen itu.
Anggapan bahwa orang Bandung tidak perlu kipas sirna pada hari pertama aku menempati kos ini. Dengan segera kubeli sebuah kipas kecil yang ternyata tidak berguna sebagaimana kuinginkan. Selalu ada harga untuk sebuah kesenangan, dan harganya adalah bertarung dengan sengatan matahari di siang hari. Aku yakin matahari pun tidak sudi sedari tadi disebut-sebut pada posisi yang serba salah.
Karena ternyata terdapat jalan tikus menuju kampus, maka aku dan temanku selalu lewat gang sempit itu. Pada percobaan pertama menelusuri jalan ini, aku keluar tepat lima langkah dari tempatku masuk, seolah tidak ada harganya langkah kakiku sebelumnya. Percobaan selanjutnya tidak begitu parah, setidaknya aku hanya perlu memutar kembali dan keluar di jalan yang tepat. Setidaknya butuh lima percobaan melewati jalan tikus ke kampus untukku tidak tersesat.
Kos Kedua Tahun Ini
Masih di tahun yang sama, aku ngekos sepuluh hari di Bone untuk melakukan penelitian. Meski hanya sebentar namun setiap harinya sangat berharga, aku senang melakukan penelitian dan senang betapa aku dapat bertahan di sana seorang diri. Penelitianku berjalan lancar dan pulang dengan hati bergembira. Bone pun sama, dengan matahari yang serupa lampu sorot pada pentas teater, untungnya aku menemukan kos dengan pendingin ruangan yang sangat membantu. Aku menikmati hariku di luar bersama narasumber dan menikmati hariku di dalam kamar sendirian mendengar rekaman dan membuat analisis-analisis dasar.
Yang tak terlupakan adalah pada suatu hari aku keluar untuk mencari makan dan bertemu warung Coto Makassar. Siapa yang tidak akan tergiur? Maka kubelilah dan kubawa pulang dengan berlari kecil di udara seolah diriku Mima dalam Perfect Blue, meski itu hanya dalam angan-angan. Sesampai di kos kenyataan bahwa aku tidak memiliki alat makan, bahkan sendok pun terkuak. Maka jadilah aku manusia yang mirip hewan sedang mengais-ngais makanan pada plastik sampah. Aku beneran tertawa terbahak-bahak hingga merasa tertekan dengan suara tawaku sendiri. Seolah mendengar diriku diejek oleh diriku sendiri. Di sisi lain, aku ingin mempercayai bahwa ini sama sekali tidak memalukan. Untungnya aku tidak menangis, rasa Coto Makassar waktu itu tidak enak sama sekali, entah karena memang begitu adanya atau karena aku sulit menerima kenyataan. Meski demikian kos ini akan selalu kukenang dengan segala kebahagiaan lain di dalamnya.
Kos Ketiga Tahun Ini
Penelitian selesai. Aku kembali ke kos yang hampir mengambil nyawaku itu. Menikmatinya hingga waktu sewa selesai. Kulanjutkan ke kos ketiga di tahun ini. Kos di mana temanku di kos sebelumnya juga berpindah, ya, aku mengekorinya karena kutahu soal kos dia jagonya. Kosnya lebih luas dengan fasilitas yang pun kusukai. Lemari dan mejanya terbuat dari kayu yang sangat berkualitas, gordennya cantik, dan sebuah shower. Meski aku tidak begitu menyukai lantai kamar mandinya, aku telah terlalu kecintaan pada kamar mandi yang penuh warna putih. Selebihnya, gangnya begitu sempit hingga hanya boleh dilewati satu motor. Motor ketemu manusia pun harus ada yang berhenti, jika tidak ya akibatnya tanggung sendiri. Ini adalah kos yang menutup masa kuliahku kali ini.
Kos Keempat Tahun Ini
Waktunya kembali bekerja. Awalnya tinggal di asrama kemudian berpindah ke kos. Nah, ini dia kos keempatku tahun ini. Memiliki pendingin ruangan karena perlu melawan matahari yang tak mau kalah. Namun, ternyata dia pun tidak sejitu itu, sebab lubang ventilasi yang begitu besar. Kos dengan pendingin ruangan yang sebenarnya tidak didesain untuk itu. Pangganglah aku semampumu, hanya itu yang bisa kupikirkan. Dan memang berasa sangat dipanggang.
Adapun alasan pertama dan terutama menulis ini adalah karena kejadian kekurangan alat makan terjadi lagi. Entah apa yang kupikirkan dan bagaimana bisa kebodohan seperti itu terulang lagi. Kejadiannya sederhana, waktu makan malam datang ditandai rasa lapar, aku keluar untuk mencari makan, tepat di depan mata ada penjual mi ayam berhenti seolah memang menungguku, ditambah seorang teman beberapa menit sebelumnya mengirimkan foto mi ayam, maka dengan tanpa sadar aku mendekati gerobaknya. Hanya butuh waktu sepersekian detik setelah aku berdiri di depan sang penjual membuatku tersadar akan ketidaksiapanku untuk memakan makanan berupa mi berkuah tersebut. Namun, karena tidak ingin mengecewakan takdir, aku tetap memesan dan di akhir meminta diberikan dua buah tusukan. Dua tusukan kecil nan kerempeng itu kugunakan untuk menyantap mi ayam dan ludes, kali ini rasanya enak. Ternyata kesalahan yang sama tidak selalu berakhir pada derita yang sama. Meski bukan berarti tidak apa-apa berbuat kesalahan yang sama.
Oiya, di kos ini, ketika hujan turun, aku merasa hujannya dapat menggapaiku, dengan kehangatan.
Aku ingin membuat kos-kosan besok.

Komentar