Surat Cinta dari Ibu (Hendra Djafar)

 

Surat Cinta dari Ibu

Karya: Hendra Djafar

 

Bersama suara jangkrik dan sesekali lolongan anjing

Ibu merambahkan berita lara, malam saksinya

Apakah yang telah terjadi anakku?

Datang kabar tubuhmu kini berlumur tato

Mulutmu selalu berbau minuman

Di darahmu tak murni lagi air susu Ibu

Apakah dunia tutup pintu untukmu, apalagi bulan?

Pulanglah anakku, pulanglah

Apapun yang telah terjadi, Ibu tetap percaya

Engkau tumbuh tanpa sifat Binatang

Engkau besar dengan air susu Ibu sendiri

Bukan susu hewan dalam kemasan

Pulanglah anakku, pulanglah

Isilah rangkulan Ibu yang kosong

Matamu masih terlalu muda

Melihat lampu kota yang mengganjal sinar rembulan

Tanganmu terlalu lembut menjamah kehidupan

Dunia boleh berkata tangan Ibu patah

Memberi engkau selembar ijazah

Tapi apabila engkau percaya

Dunia tak akan mengubah nasibmu

 Dunia hanya mampu mengubah sifatmu

Pulanglah ke kampung halaman

Belajar pada ikan, hidup di air asin tetap dagingnya tawar

Belajar pada pohon, diberi kotoran malah semakin subur

Ibu percaya ingatanmu masih tembang

Bagaimana dulu mengambil air setiap usai mengaji

Itu tak sekadar terima kasih pada gurumu

Tapi untuk kau belajar pada sifat air

Ingatlah anakku

Saat Pua’mu mengajar kau sembahyang

Dimulai dengan kebesaran Allah

Dan ditutup dengan salam pada sesame

Pulanglah anakku, jangan malu

Bila jadi Fir’aun pun engkau tetap jadi anakku

Tubuhmu yang tatoan akan Ibu semat penuh kasih

Rambutmu yang panjang akan Ibu sisir hingga rapih

Tubuhmu yang kini kurus, akan terayun di pangkuan Ibu

Pulanglah anakku, pulanglah

Pulanglah dengan segenap tubuhmu yang ada

Kesuksesan itu tak berarti menggengam tumpukan emas

Tapi lebih bagaimana bisa tersenyum pada lawan

Serta kawanmu

Pulanglah anakku, pulanglah

Nanti kembali setelah reda marahmu pada dunia

Sebab marah pada dunia akan celakai dirimu sendiri

Engkau titipan Tuhan pada Ibu

Sekian Ibu berharap jangan keras kepala.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkenalan dengan Paya Nie

Aravind Agida dalam Harimau Putih

Seorang Perempuan yang Berlutut kepada Tuhan