Lolika yang Membawa Pulang Bangkai Kerang
Dahulu kala, ketika perempuan tidak boleh mengatakan tidak, hiduplah gadis kecil bernama Lolika. Dia sangat mencintai laut. Mencintai berisik ombaknya, mencintai tenang permukaannya, mencintai aroma menyengatnya, mencintai putih, hijau, biru, hitam warnanya. Dan pada laut yang dicintainya itu, dia selalu memungut bangkai kerang untuk dibawa pulang. Kerang-kerang itu dia kumpulkan di sebuah tanah kosong yang semakin hari semakin tinggi, membentuk candi. Lolika dan laut saling mencintai maka seringlah mereka lupa waktu untuk mengucap sampai ketemu lagi.
Hidupnya yang penuh cinta
kepada laut menemui perubahan besar, Ibu mengabarkan bahwa Lolika tidak boleh
lagi keluar rumah – apalagi bertemu laut – karena dia telah mempunyai buah yang
diinginkan banyak laki-laki. Lolika merasa seperti ada jarum suntik yang
ditancapkan bergantian di sekujur tubuhnya, rasa yang tidak pernah dikenalnya.
Namun iya adalah satu-satunya kata yang dikenal, serta
banyak tidak yang perlu dia patuhi.
Luka-luka jarum suntik
itu kemudian membentuk kebencian selurus dengan semakin buah itu membesar. Lolika
merindukan suara, warna, dan tekstur laut. Ketika Ibu sedang
memotong ekor ikan yang tidak dibutuhkan, Lolika meminta tolong agar buahnya
juga dipotong, dia tidak membutuhkannya jika itu malah membuatnya kehilangan
cintanya. Dia ingin memberikannya kepada laki-laki yang kata Ibunya menginginkannya.
Lagian mengapa Tuhan tidak memberikan buah itu kepada yang lebih membutuhkan.
Lolika menatap hatinya
yang kosong, ada kematian di dalam sana. Saking mudahnya mencintai, tiba-tiba
dia mencintai kematian, hatinya kembali bergejolak. Sebuah perasaan senang yang
teramat besar. Dia ingin hidup di dalam kematian, secepat sekarang juga!
Membayangkan kerang-kerang yang dia kumpulkan menjadi kuburannya. Dia memberitakan
hal gembira itu kepada Ibu, Ibu mengutuknya menjadi batu. Tidak terjadi
apa-apa. Ternyata Ibu tidak mempunyai kekuatan untuk mengutuk anaknya menjadi
batu, mungkin karena dia perempuan. Banyak hal yang tidak boleh dia
lakukan. Cerita soal Ibu mengutuk anaknya hanyalah kebohongan semata.
Mereka terdiam.
Apakah dosa memiliki buah?
Ibu tidak bisa menjawab
karena kebenarannya menggunakan kata tidak.

Komentar