September, sebuah novel.
September,
sebuah novel.
Kekerasan Budaya Pasca
1965 membawaku pada Noorca M. Massardi di September. Sebuah novel yang begitu
tebal, menggiurkan, dan membawa banyak harapan. Saya sudah begitu sering jatuh
cinta dengan novel tebal, mulai dari Ulid, Kura-kura Berjanggut,
dan kemudian bertemu The Brothers Karamazov. Tidak dengan September.
Persoalan utamanya jelas: harapan besar yang tidak menemukan jalannya.
Sebagai sebuah novel yang
terinspirasi dari kisah kelam sebuah negara, saya melihat tulisan sebanyak 701
halaman ini sekadar menggunakan isu September. Yang kemudian dibalut empati yang tidak
memadai. Pun melihat betapa novel ini berusaha dipanjang-panjangkan tanpa
benar-benar ada esensi di dalamnya. Informasi ditempelken dengan sangat kaku, terkesan arogan.
Berkisah mengenai Darius
yang terpuruk dan mencoba meninggalkan keluarganya untuk mencari pengharapan,
malah masuk ke tubuh orang lain. Satu tubuh yang kemudian membawanya ke tubuh
orang lain yang saling terhubung dengan peristiwa September, utamanya terhubung
secara seksual. Saya tidak dapat mengkategorikan hubungan-hubungan yang terjadi
sebagai open relationship, karena semuanya dihubungkan dengan berbagai
cara aneh dalam artian buruk, dan paling utama adalah Darius mempunyai hasrat seksual kepada siapa pun layaknya psikopat.
Menggunakan teknik
penulisan yang cukup membosankan, saya menemukan begitu banyak typo,
mulai dari yang menyebalkan hingga yang membuatku tertawa ngakak beberapa
menit. Saya tahu ini seratus persen fiksi, namun membuat tokoh Theo Rosa bunuh
diri secara live adalah tindakan yang tidak dapat kuterima. Buku ini
ditutup dengan sangat buruk.
Tidak banyak yang dapat kutuliskan, sebagai buku pertama di tahun ini, saya berhutang membaca buku-buku bagus ke depannya.

Komentar