Postingan

Berkenalan dengan Paya Nie

Gambar
  Berkenalan dengan Paya Nie Dengan serangkaian buku yang telah kubaca dan juga dibaca oleh orang lain, aku menambatkan kepercayaan kepada Marjin Kiri dalam mengurasi buku -buku untuk diterbitkan. Oleh karena itu, tanpa mengetahui bahwa Paya Nie merupakan Juara III Sayembara Novel DKJ 2023, aku telah lebih dulu tertarik untuk memilikinya. Sebuah nasib baik, Kedai Jante mempertemukanku dengan Ida Fitri, sang penulis. Buku yang kubaca ini tentu saja telah dibubuhi tanda tangan beliau. Yey! Paya Nie bukan kata yang akrab di telingaku. Hingga saat ini pun aku belum yakin bagaimana cara membacanya dengan benar. Berkat bantuan daftar istilah, aku menyadari banyak hal baru yang sebelumnya tidak kuketahui mengenai Aceh. Novel ini pun memperkenalkanku kembali pada GAM, dari sisi yang lebih dekat. Novel ini berkisah tentang empat perempuan yang mencari binyeut di sebuah rawa bernama Paya Nie, lalu mendapati diri mereka terjebak dalam perang antara gerilyawan GAM dan tentara induk. D...

MengAMUK bersama Stefan Zweig

Gambar
MengAMUK bersama Stefan Zweig Ini dia Amuk, karya Stefan Zweig. Diterjemahkan dari bahasa Jerman oleh Tiya Hapitiawati, diterbitkan Moooi Pustaka. Sebuah kumpulan cerita pendek dengan empat judul, yakni:   Amuk, Mandel Sang Kutu Buku, Leporella, dan Dua Puluh Empat Jam Hidup Seorang Perempuan. Mari bicara soal covernya terlebih dahulu, oleh Agus Noor sang Pangeran Kunang-kunang. Dua ikan kecil, perahu kertas terbalik dari koran berisi pesan tentang etika dasar, kemanusiaan, dan penderitaan, sebuah kain yang mengapung di atas cahaya atau entah. Dikelilingi jingga yang membentuk amukan pada laut dan langit lepas menciptakan sebuah kegeruhan tak berujung. Sejujurnya saya tidak begitu mengerti, yang terlihat hanyalah kekelaman. Penceritaannya menarik, menulis dengan teknik orang pertama melalui orang kedua. Satu paragraf bisa sampai beberapa halaman, itu cukup gila sih. Stefan Zweig terlihat menganut kerpecayaan bahwa tulisan itu bercerita tentang suatu masa yang telah lalu. Dan di...

Sepuluh Jam Bersama Zahira

Gambar
  Zahira ini adalah Bintang, membawamu pergi ke suatu tempat yang jauh. Bersama dialah saya menjalani sepuluh jam yang sangat mencekam. Bintang ini datang dari Palu menuju Makassar, membawaku dari Mamuju ke Pangkep cukup dengan membayar dua ratus lima puluh ribu rupiah. Kami berangkat pukul sembilan malam, tanah masih basah akibat hujan dino ketika aku menunggunya di tengah jalan. Hingga sampai di Pangkep, yang terlewati tiada lain selain hujan dan jejak hujan pada tanah. Hueek , betapa menuliskan ini membuatku mual. Berbekal permen karet, camilan, dan air mineral, saya bertarung dengan pikiran akan mual selama perjalanan. Saya tidak pernah mual jika menggunakan Kijang dan sejenisnya, terlebih muntah. Namun sebagaimana biasanya, Bintang selalu mampu membuatku muntah ketika melewati belokan-belokan yang menghubungkan Kalukku, Mamuju, Tappalang, Malunda, dan seterusnya. Begitulah kejadiannya, saya muntah. Jangan salah, ini muntah bukan sembarang muntah. Ini muntah yang memba...

Aravind Agida dalam Harimau Putih

Gambar
Setelah berkenalan dengan karya Jhumpa Lahiri dan R.K. Narayan, saya menjadi semakin sering mencari literatur India. Pencarian ini mengingatkanku dengan buku-buku terbitan Mimamsa yang masih bertengger di rak jualanku. Mimamsa adalah penerbit indie yang khusus menerjemahkan buku-buku terbitan India, di Bandung. Meski akhirnya buku yang kubaca ini bukan dari rak jualan, melainkan buku bekas yang kubeli dari twitter. Harimau Putih, karya Aravind Agida. Berjudul asli The White Tiger dan diterjemahkan oleh Stanley Khu, terima kasih. Bercerita mengenai seorang Mannu, anak tak bernama yang hidup dalam kasta Pembuat Manisan. Bersekolah dengan nama Balram Halwai, sebab nama Ram telah digunakan oleh anak yang lain. Tumbuh sebagai Harimau Putih yang mampu meningkatkan kastanya dengan menjadi seorang supir. Setelah membunuh tuannya, dia berganti nama menjadi Ashok Sharma. Menjadi pengusaha dengan lampu gantung di meja kerjanya. Semua kisah ini dituliskan dalam enam kali malam, dua kali pagi, dala...

Kumpulan Cerita Pendek Guy de Maupassant: Mademoiselle Fifi

Gambar
  Kumpulan Cerita Pendek Guy de Maupassant: Mademoiselle Fifi Tergugah oleh review seorang teman, saya ikut membaca Mademoiselle Fifi. Sebuah buku berisi 25 kumpulan cerpen Maupassant yang berhasil diterjemahkan oleh mahasiswa Program Spesialis Penerjemah 1 Prancis-Indonesia UI angkatan tahun 1996-2001. Sebuah kerja kolektif yang kembali mengingatkanku betapa bermaknanya pekerjaan penerjemah, menjembatani orang lain pada suatu karya. Terima kasih kepada Ibu Ida Sundari Husen yang telah menginisiasi karya ini. Mengingatkan kita akan kemanusiaan masa lalu yang masih saja terjadi hingga saat ini. Di mana kekejian, kehampaan, keserakahan, kekuasaan, ketidaktahuan, kemelaratan, bercampur tidak selaras dengan kehangatan cinta. Pertemanan yang tidak menjadi menarik tanpa perebutan kekuasaan akan sesuatu yang bahkan tidak pernah benar-benar mereka kuasai. Cinta yang selesai karena kekasih berjuang lebih banyak. Kebahagiaan yang berada di tempat jauh. Kemiskinan yang tidak lagi mengenal...

Be Melodramatic, again and again.

Gambar
  Be Melodramatic, lagi dan lagi. Semalam dan pada malam-malam lainnya, sebelum tulisan ini dan setelahnya, saya menonton Be Melodramatic, lagi dan lagi. Sebuah drama yang mencoba normal, yang kemudian membuatnya malah terlihat tidak normal. Semacam anomali akan kejujuran, saya sangat menyukainya dan akan terus demikian. Disutradarai oleh Lee Byeong-heon dan Kim Hye-young, drama dengan 1,120 menit ini bercerita mengenai tiga sahabat perempuan berusia tiga puluhan yang akhirnya tinggal bersama. Penduduk rumah tersebut terdiri dari, Lee Eun-jeong dan adik cowoknya yang berusia akhir dua puluhan, Hwang Han-ju dan putranya yang masih TK, serta Im Jin-ju dan dirinya sendiri. Semuanya berkecimpung di industri hiburan, menampilkan bagaimana orang-orang ini bekerja di belakang layar. Penokohannya tajam, dialognya menarik, musiknya menyegarkan, dan tentu saja kemunculan iklan yang sangat kreatif haha . Kehadiran Ahn Jae-hong sebagai Son Beom-su adalah alasan utama saya menonton drama ...

Lolika yang Membawa Pulang Bangkai Kerang

Gambar
  Dahulu kala, ketika perempuan tidak boleh mengatakan tidak , hiduplah gadis kecil bernama Lolika. Dia sangat mencintai laut. Mencintai berisik ombaknya, mencintai tenang permukaannya, mencintai aroma menyengatnya, mencintai putih, hijau, biru, hitam warnanya.  Dan pada laut yang dicintainya itu, dia selalu memungut bangkai kerang untuk dibawa pulang. Kerang-kerang itu dia kumpulkan di sebuah tanah kosong yang semakin hari semakin tinggi, membentuk candi. Lolika dan laut saling mencintai maka seringlah mereka lupa waktu untuk mengucap sampai ketemu lagi.  Hidupnya yang penuh cinta kepada laut menemui perubahan besar, Ibu mengabarkan bahwa Lolika tidak boleh lagi keluar rumah – apalagi bertemu laut – karena dia telah mempunyai buah yang diinginkan banyak laki-laki. Lolika merasa seperti ada jarum suntik yang ditancapkan bergantian di sekujur tubuhnya, rasa yang tidak pernah dikenalnya. Namun  iya  adalah satu-satunya kata yang dikenal, serta banyak  tid...